Remaja

Pubertas pada Anak Laki Laki dan Perempuan: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Anak Usia SD

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 10 January 2026
Bacaan 6 menit

Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai membicarakan kisah seorang anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah menunjukkan tanda tanda seperti perubahan fisik dan munculnya bau badan yang cukup menyengat. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai pubertas prekoks, yaitu pubertas yang terjadi lebih awal dari usia normal. Banyak orang tua yang terkejut, bingung, bahkan merasa khawatir apakah kondisi tersebut berbahaya atau berkaitan dengan pola asuh dan pola makan anak. Kasus viral ini menjadi pengingat penting bahwa pubertas bukan lagi topik yang bisa ditunda untuk dibicarakan. Perubahan tubuh pada anak dapat terjadi lebih cepat dari yang kita bayangkan, bahkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, dan tanpa pemahaman yang tepat, orang tua bisa salah menilai atau terlambat memberikan pendampingan yang dibutuhkan.

Pubertas sendiri adalah fase alami dalam proses tumbuh kembang anak, ketika tubuh mulai mengalami perubahan biologis menuju kematangan fisik dan reproduksi. Proses ini dipicu oleh perubahan hormon yang bekerja secara bertahap selama beberapa tahun. Waktu munculnya pubertas pada setiap anak bisa berbeda, dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi, lingkungan, dan kondisi kesehatan secara umum.

Secara umum, pubertas terjadi pada usia 8 sampai 13 tahun pada anak perempuan, dan 9 sampai 14 tahun pada anak laki laki. Namun, tidak sedikit anak yang mulai menunjukkan tanda pubertas lebih awal, terutama pada usia SD.

Apa Itu Pubertas Prekoks?

Pubertas prekoks adalah kondisi ketika tanda tanda pubertas muncul lebih awal dari usia normal, yaitu sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki laki. Kondisi ini terjadi karena aktivasi hormon pubertas yang datang terlalu cepat.

Pada sebagian anak, pubertas prekoks bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebab pastinya. Namun pada kasus tertentu, pubertas prekoks bisa berkaitan dengan faktor genetik, gangguan hormon, atau kondisi medis tertentu sehingga perlu pemantauan khusus.

Penting dipahami bahwa tidak semua perubahan fisik awal otomatis berarti pubertas prekoks. Oleh karena itu, pengamatan orang tua dan evaluasi medis menjadi kunci.

Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pubertas dini dan pubertas prekoks bukan sekadar variasi tumbuh kembang biasa, tetapi kondisi yang perlu dipahami secara menyeluruh oleh orang tua.

Sebuah studi besar yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open pada tahun 2021, dipimpin oleh Dr. Holly Harris dan tim peneliti dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, menemukan bahwa anak yang mengalami pertumbuhan lebih cepat pada lima tahun pertama kehidupannya cenderung memasuki masa pubertas lebih awal dibandingkan anak dengan pertumbuhan yang lebih lambat. Para peneliti menekankan bahwa percepatan pubertas ini perlu dipantau karena berkaitan dengan kesiapan fisik dan emosional anak.

Dalam ulasan ilmiah lain yang diterbitkan oleh jurnal Frontiers in Pediatrics, Dr. Lourdes Ibanez, seorang ahli endokrinologi anak, menjelaskan bahwa pubertas dini dapat membawa dampak jangka panjang, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikososial. Anak yang mengalami pubertas lebih awal berisiko mengalami tekanan emosional, kecemasan, serta kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang belum sejalan dengan perkembangan tubuhnya.

Sementara itu, penelitian longitudinal yang dimuat dalam jurnal Pediatrics, jurnal resmi dari American Academy of Pediatrics, menunjukkan bahwa anak anak yang memasuki pubertas lebih awal sering kali menghadapi tantangan kepercayaan diri dan regulasi emosi, terutama ketika perubahan tubuh mereka jauh berbeda dibandingkan teman sebaya di usia sekolah dasar.

Menurut Dr. Peter A Lee, profesor pediatri dan pakar endokrinologi anak dari Penn State College of Medicine, pubertas prekoks perlu dilihat sebagai kondisi medis yang memerlukan evaluasi individual. Ia menegaskan bahwa tidak semua kasus berbahaya, namun pemeriksaan dini membantu memastikan anak mendapatkan pendampingan yang tepat, baik secara medis maupun emosional.

Ciri Pubertas pada Anak Perempuan

Pada anak perempuan, pubertas sering kali dimulai lebih awal dibandingkan anak laki laki. Berikut tanda tanda yang umum muncul:

  1. Pertumbuhan payudara: Biasanya menjadi tanda awal pubertas, ditandai dengan munculnya benjolan kecil dan rasa nyeri ringan di area dada.
  2. Munculnya rambut di ketiak dan area kemaluan: Rambut mulai tumbuh halus lalu semakin tebal seiring waktu.
  3. Perubahan bau badan dan peningkatan keringat: Kelenjar keringat mulai aktif, sehingga bau badan bisa muncul meskipun anak sudah mandi.
  4. Pertumbuhan tinggi badan yang cepat: Anak tampak lebih cepat meninggi dalam waktu relatif singkat.
  5. Perubahan emosi: Anak menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau lebih mudah malu.
  6. Menstruasi pertama: Biasanya terjadi di tahap lanjut pubertas, beberapa tahun setelah tanda awal muncul.


Ciri Pubertas pada Anak Laki Laki

Pubertas pada anak laki laki umumnya dimulai sedikit lebih lambat, namun tetap bisa muncul saat usia SD akhir. Tanda tandanya antara lain:

  1. Pembesaran testis dan penis: Ini merupakan tanda awal pubertas pada anak laki laki.
  2. Munculnya rambut di ketiak dan area kemaluan: Rambut bertambah tebal seiring bertambahnya usia.
  3. Perubahan suara: Suara mulai terdengar lebih berat atau serak sebelum akhirnya stabil.
  4. Pertumbuhan tinggi badan dan massa otot: Anak tampak lebih tinggi dan lebih berisi dibandingkan sebelumnya.
  5. Bau badan lebih kuat: Sama seperti anak perempuan, kelenjar keringat menjadi lebih aktif.
  6. Perubahan perilaku dan emosi: Anak bisa lebih mudah marah, ingin lebih mandiri, atau menarik diri.

Tanda Tanda Pubertas Prekoks yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Orang tua anak usia SD sebaiknya lebih waspada jika menemukan beberapa tanda berikut muncul di usia yang sangat dini:

  • Pertumbuhan payudara atau pembesaran alat kelamin sebelum usia yang seharusnya
  • Munculnya rambut di ketiak atau area kemaluan pada usia sangat muda
  • Bau badan yang kuat dan menetap meski kebersihan sudah dijaga
  • Pertumbuhan tinggi badan yang sangat cepat dalam waktu singkat
  • Perubahan emosi yang cukup ekstrem untuk usia anak
  • Menstruasi yang terjadi jauh sebelum usia 9 tahun

Tanda tanda ini tidak selalu berbahaya, tetapi perlu dicatat dan dikonsultasikan agar orang tua mendapatkan gambaran yang jelas.

Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Dokter?

Orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis jika:

  • Tanda pubertas muncul sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan atau 9 tahun pada anak laki laki
  • Perubahan fisik terjadi sangat cepat dan progresif
  • Anak menunjukkan tanda stres, malu berlebihan, atau penurunan kepercayaan diri
  • Orang tua merasa ragu apakah perubahan yang terjadi masih termasuk variasi normal

Pemeriksaan dini membantu memastikan apakah anak hanya mengalami variasi tumbuh kembang normal atau membutuhkan pendampingan medis lanjutan.

image.alt

Tips Percakapan Orang Tua dan Anak tentang Pubertas untuk Usia SD

Membicarakan pubertas dengan anak usia SD membutuhkan pendekatan yang lembut, sederhana, dan tidak menakutkan.

  1. Mulai dari pengalaman sehari hari anak: Gunakan momen saat anak berkeringat, mencium bau badan sendiri, atau bertanya tentang perubahan tubuhnya.
  2. Gunakan bahasa sederhana dan menenangkan: Alih alih menjelaskan hormon secara teknis, orang tua bisa mengatakan bahwa tubuh anak sedang belajar tumbuh menjadi lebih besar dan kuat.
  3. Tekankan bahwa setiap anak tumbuh dengan waktu yang berbeda: Ini penting untuk mencegah anak membandingkan diri dengan teman sebayanya.
  4. Fokus pada perawatan diri, bukan rasa malu: Ajarkan kebiasaan mandi bersih, mengganti pakaian, dan menggunakan deodoran bila perlu sebagai bagian dari tanggung jawab baru.
  5. Validasi perasaan anak: Jika anak merasa malu atau bingung, dengarkan tanpa menghakimi dan yakinkan bahwa perasaan tersebut wajar.
  6. Hindari bercanda atau mengejek perubahan tubuh anak: Komentar yang terlihat ringan bagi orang dewasa bisa berdampak pada kepercayaan diri anak.
  7. Jadikan percakapan sebagai proses berkelanjutan: Tidak semua hal harus dibahas sekaligus. Percakapan tentang pubertas sebaiknya dilakukan bertahap, mengikuti kesiapan anak.

Kasus viral tentang pubertas dini seharusnya tidak menjadi sumber ketakutan, melainkan pemicu kesadaran. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa perubahan tubuh adalah hal normal, bukan sesuatu yang memalukan.

Kehadiran orang tua yang tenang, terbuka, dan suportif akan membantu anak melewati masa pubertas dengan lebih percaya diri, sehat secara emosional, dan merasa aman untuk bertanya.

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Waspada "Super Flu" pada Si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Kanak-kanak

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Kanak-kanak

Influenza A pada Anak dan Keluarga Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Kanak-kanak

Tips Kembali Sekolah Setelah Liburan Tanpa Drama

Kanak-kanak

Tips Praktis untuk Orang Tua: Cara Mengajak Anak Membuat Resolusi Tahun Baru

Balita

Anak Sering Batuk dan Pilek? Kenali Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak.

Kanak-kanak

Pneumonia pada Anak: Cara Mengenali Gejala dan Mencegahnya Sejak Dini

Kanak-kanak

Penting untuk Orang Tua: Langkah Aman Mencegah Anak Hilang atau Diculik di Tempat Umum