Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai membicarakan kisah seorang anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah menunjukkan tanda tanda seperti perubahan fisik dan munculnya bau badan yang cukup menyengat. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai pubertas prekoks, yaitu pubertas yang terjadi lebih awal dari usia normal. Banyak orang tua yang terkejut, bingung, bahkan merasa khawatir apakah kondisi tersebut berbahaya atau berkaitan dengan pola asuh dan pola makan anak. Kasus viral ini menjadi pengingat penting bahwa pubertas bukan lagi topik yang bisa ditunda untuk dibicarakan. Perubahan tubuh pada anak dapat terjadi lebih cepat dari yang kita bayangkan, bahkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, dan tanpa pemahaman yang tepat, orang tua bisa salah menilai atau terlambat memberikan pendampingan yang dibutuhkan.
Pubertas sendiri adalah fase alami dalam proses tumbuh kembang anak, ketika tubuh mulai mengalami perubahan biologis menuju kematangan fisik dan reproduksi. Proses ini dipicu oleh perubahan hormon yang bekerja secara bertahap selama beberapa tahun. Waktu munculnya pubertas pada setiap anak bisa berbeda, dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi, lingkungan, dan kondisi kesehatan secara umum.
Secara umum, pubertas terjadi pada usia 8 sampai 13 tahun pada anak perempuan, dan 9 sampai 14 tahun pada anak laki laki. Namun, tidak sedikit anak yang mulai menunjukkan tanda pubertas lebih awal, terutama pada usia SD.








