Kanak-kanak

Waspada Virus Nipah, Ini Penjelasan Kemenkes dan IDAI untuk Orang Tua

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 3 February 2026
Bacaan 4 menit

Munculnya kembali kasus virus Nipah di beberapa negara membuat isu ini kembali menjadi perhatian global. Meski hingga saat ini Indonesia belum melaporkan kasus positif, pemerintah dan tenaga kesehatan mengingatkan pentingnya kewaspadaan sejak dini, terutama bagi keluarga dengan anak. Virus ini dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi dan belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah adalah virus zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah (Pteropus) menjadi inang alaminya, dan penularan bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, hewan perantara seperti babi, atau makanan yang terkontaminasi air liur dan urin kelelawar. Dalam kondisi tertentu, virus ini juga dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dengan penderita. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat tingkat kematian akibat infeksi Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada respon klinis dan kecepatan penanganan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia. Meski demikian, Kemenkes menghimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat letak geografis Indonesia yang berdekatan dengan negara-negara yang pernah melaporkan kasus.

Kemenkes juga menegaskan bahwa penularan virus Nipah berkaitan erat dengan kontak terhadap hewan pembawa virus serta konsumsi makanan yang tidak higienis. Pemerintah telah meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan sistem surveilans dan pemeriksaan kesehatan di pintu masuk negara sebagai langkah pencegahan dini.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Ketua Umumnya, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, mengingatkan orang tua agar waspada tanpa perlu panik. Salah satu hal yang kerap luput diperhatikan adalah kebiasaan anak mengonsumsi buah yang ditemukan di lingkungan sekitar tanpa memastikan kebersihannya.

Menurut dr. Piprim, anak-anak sebaiknya tidak mengonsumsi buah yang terlihat rusak, jatuh ke tanah, atau memiliki bekas gigitan, karena kondisi tersebut berpotensi menjadi jalur penularan virus dari kelelawar. Mengingat belum adanya vaksin atau terapi khusus untuk Nipah, pencegahan menjadi langkah paling penting.

image.alt

Buah-Buahan yang Berisiko Menularkan Virus Nipah

Buah-buahan dapat menjadi media penularan virus Nipah apabila terkontaminasi air liur atau urin kelelawar. Risiko meningkat pada buah yang dikonsumsi tanpa proses pemasakan atau pencucian yang memadai.

Jenis buah dan produk yang berisiko antara lain:

  • Buah yang dimakan langsung tanpa dikupas seperti jambu, anggur, stroberi, atau ceri
  • Buah yang dimakan dengan kulit tipis dan sering dikonsumsi bersama kulitnya seperti apel atau pir
  • Buah yang ditemukan sudah jatuh ke tanah
  • Buah dengan bekas gigitan, lubang kecil, atau bagian yang tampak rusak, serta produk olahan buah segar yang tidak dimasak, seperti jus segar atau nira aren.

Orang tua disarankan untuk memastikan buah dicuci bersih dengan air mengalir, dikupas bila memungkinkan, serta tidak mengonsumsi buah yang menunjukkan tanda kontaminasi.

Gejala Infeksi Virus Nipah

Gejala infeksi virus Nipah dapat beragam, dari tanpa gejala sampai penyakit parah. Masa inkubasi biasanya 3–14 hari setelah paparan. Gejala yang umum terjadi meliputi:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Kelelahan dan nyeri otot
  • Sakit tenggorokan, batuk, disertai sesak napas
  • Mual hingga muntah
  • Gejala saraf seperti kebingungan, kantuk berlebihan, menurunnya kesadaran
  • Dalam kasus berat, terjadi ensefalitis (radang otak) yang bisa berujung koma atau kematian

Jika anak mengalami gejala berat disertai riwayat paparan risiko, orang tua dianjurkan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Karena belum tersedia vaksin maupun obat khusus, pencegahan menjadi kunci utama dalam melindungi keluarga dari virus Nipah.

Orang tua perlu menghindari kontak anak dengan kelelawar atau hewan yang tampak sakit, memastikan kebersihan makanan dan minuman, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun. Anak juga perlu diajarkan untuk tidak sembarangan memakan buah yang ditemukan di lingkungan sekitar.

Di lingkungan fasilitas kesehatan, penerapan pengendalian infeksi dan penggunaan alat pelindung diri menjadi langkah penting untuk mencegah penularan antar-manusia.

Virus Nipah mungkin belum ditemukan di Indonesia, namun pengalaman global menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak harus menunggu kasus pertama muncul. Dengan memahami jalur penularan, mengenali gejala awal, dan menerapkan kebiasaan hidup bersih sejak rumah, orang tua memiliki peran penting dalam memutus risiko sebelum menjadi ancaman nyata.

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Pintar Saja Gak Cukup! 'Skill' Ini yang Justru Dibutuhkan Anak!

Kanak-kanak

Tubuh Anak Lebih Pendek dari Teman Seusianya? Kenali Growth Hormone Deficiency dan Pola Tumbuh Kembang Anak

Kanak-kanak

Tips Hari Pertama Sekolah Anak: Panduan Bebas Drama untuk Orang Tua

Remaja

Bukan "Belajar Apa Tadi?", Ini 9 Pertanyaan yang Bikin Anak Mau Cerita Sepulang Sekolah

Kanak-kanak

Bukan Cuma Genetik! Intip Menu Harian Erling Haaland agar Anak Tumbuh Tinggi Maksimal

Pra-sekolah

Hari Pertama Sekolah Tanpa Drama: Trik Psikologis Populer yang Wajib Orang Tua Tahu!

Balita

Jangan Asal Pilih! Panduan Lengkap Jenis Kalsium untuk Tumbuh Kembang Anak!

Kanak-kanak

Si Kecil Mulai Tahu Istilah Pacaran? Jangan Panik! Simak Tips untuk Meresponsnya!