Balita

Anak Sering Batuk dan Pilek? Kenali Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak.

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 16 December 2025
Bacaan 6 menit

Batuk, pilek, dan demam adalah kombinasi keluhan yang paling sering membuat orang tua mulai khawatir. Apalagi jika anak terlihat lebih lemas dari biasanya atau nafsu makannya menurun. Di usia anak-anak, infeksi saluran pernapasan memang menjadi salah satu kondisi yang paling sering terjadi, dan tidak jarang membuat orang tua bertanya-tanya, apakah ini masih wajar atau perlu segera diperiksakan.

Agar orang tua tidak hanya mengandalkan rasa cemas, tetapi juga dibekali pemahaman yang tepat, Parentstory berbincang dengan dr. Fanny Fachrucha, Sp.P(K), Dokter Spesialis Paru Konsultan Imunologi dan Penyakit Paru Interstisial dari Rumah Sakit Persahabatan. Melalui penjelasan beliau, kita bisa memahami infeksi saluran pernapasan pada anak tanpa panik namun tetap waspada.

Apa Itu Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak?

Infeksi saluran pernapasan pada anak adalah infeksi yang menyerang saluran napas, baik bagian atas maupun bawah. Penyebabnya beragam, mulai dari virus, bakteri, hingga kuman lainnya.

Dr. Fanny menjelaskan bahwa anak lebih mudah terinfeksi karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. “Sistem imun anak belum sempurna dan belum memiliki memori kekebalan terhadap banyak kuman baru, sehingga anak lebih mudah sakit dibandingkan orang dewasa,” jelasnya.

Selain faktor imunitas, kebiasaan anak yang masih sering menyentuh hidung dan mulut tanpa mencuci tangan, serta lingkungan yang kurang higienis, juga membuat penularan infeksi lebih mudah terjadi.

image.alt

Infeksi Saluran Pernapasan Atas dan Bawah, Apa Bedanya?

Banyak orang tua mendengar istilah infeksi saluran pernapasan atas dan bawah, tetapi belum sepenuhnya memahami perbedaannya. Padahal, membedakan keduanya cukup penting untuk membantu orang tua mengenali tingkat keparahan infeksi yang dialami anak.

Secara anatomi, batas antara saluran pernapasan atas dan bawah adalah pita suara. Saluran pernapasan atas meliputi hidung, rongga hidung, dan tenggorokan. Infeksi pada area ini umumnya menyebabkan gejala seperti pilek, hidung tersumbat atau berair, batuk ringan, sakit tenggorokan, dan demam ringan hingga sedang. Pada kondisi ini, anak biasanya masih cukup aktif meskipun tampak tidak nyaman.

Sementara itu, infeksi saluran pernapasan bawah mencakup pita suara hingga paru-paru. Infeksi pada bagian ini memerlukan perhatian lebih karena berpotensi memengaruhi proses pernapasan anak. Gejala yang sering muncul antara lain batuk berdahak yang sulit keluar, napas lebih cepat atau berat, bunyi napas tambahan, hingga sesak napas.

Dr. Fanny menjelaskan, “Jika infeksi sudah mengenai saluran napas bawah, biasanya infeksi terjadi di paru dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan sesak napas.” Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan napas dan aktivitas anak.

Sebagai gambaran sederhana, jika anak masih mau bermain, bernapas dengan nyaman, dan hanya mengalami pilek atau batuk ringan, kemungkinan infeksi masih terbatas pada saluran napas atas. Namun, jika anak tampak cepat lelah, napasnya terlihat bekerja lebih keras, atau aktivitasnya menurun drastis, kondisi ini bisa mengarah pada keterlibatan saluran napas bawah dan sebaiknya segera diperiksakan.

Tanda-Tanda yang Bisa Diamati di Rumah

Sebagian besar orang tua bisa mengenali tanda awal infeksi saluran pernapasan dari rumah. Gejala yang paling umum adalah demam, batuk, pilek, dan nafsu makan yang berkurang.

Namun, salah satu tanda penting yang kerap luput diperhatikan adalah pola napas anak. Dalam berbagai jurnal kesehatan anak dan pulmonologi pediatrik, perubahan pola napas disebut sebagai indikator awal keterlibatan saluran napas bawah.

Dr. Fanny menjelaskan, “Pada infeksi saluran napas bawah, anak sering tampak bernapas lebih cepat, batuk berdahak yang sulit dikeluarkan, dan kondisi tubuhnya terlihat lebih lemas.”

Orang tua dianjurkan untuk mengamati apakah napas anak terlihat lebih cepat dari biasanya, terasa lebih berat, atau disertai tarikan dinding dada. Pengamatan pola napas ini sejalan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta berbagai jurnal pulmonologi anak yang menempatkan perubahan pola napas sebagai salah satu tanda klinis penting infeksi saluran pernapasan bawah. Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah napas cuping hidung, yaitu kondisi ketika cuping hidung tampak kembang-kempis saat bernapas. Jurnal kesehatan anak menyebutkan bahwa napas cuping hidung dan tarikan dinding dada merupakan tanda tubuh anak sedang bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen.

Selain itu, perubahan perilaku juga menjadi petunjuk penting. Jika anak yang biasanya aktif menjadi sangat pasif, mudah lelah, atau kesulitan berbicara panjang karena kehabisan napas, sebaiknya orang tua tidak menunda untuk berkonsultasi dengan dokter.

Sebagian besar infeksi saluran pernapasan pada anak disebabkan oleh virus, meskipun bakteri juga bisa menjadi penyebab pada kondisi tertentu.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko anak terkena infeksi ini antara lain status gizi yang kurang optimal, kebersihan lingkungan yang tidak terjaga, paparan asap rokok dan polusi udara, serta riwayat vaksinasi yang belum lengkap. Berbagai jurnal kesehatan anak juga menunjukkan bahwa paparan asap rokok di rumah dapat membuat infeksi lebih sering kambuh dan gejalanya terasa lebih berat.

Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Dokter?

Tidak semua batuk dan pilek memerlukan pemeriksaan medis. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan. “Jika demam tidak turun lebih dari tiga hari, anak terlihat sesak napas, semakin lemas, atau tidak mau makan, sebaiknya segera dibawa ke dokter,” tegas dr. Fanny. Pemeriksaan dini membantu dokter menentukan penanganan yang tepat sekaligus mencegah komplikasi.

Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan fisik hingga mendengarkan suara napas anak. Pemeriksaan tambahan seperti foto rontgen atau tes laboratorium hanya dilakukan jika memang dibutuhkan, tergantung kondisi klinis anak.

image.alt

Penanganan di Rumah dan Penggunaan Obat

Saat anak mengalami infeksi saluran pernapasan, perawatan di rumah memegang peran penting. Pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup dan asupan nutrisi tetap terjaga, meskipun nafsu makannya menurun.

Terkait obat, dr. Fanny mengingatkan, “Antibiotik hanya diberikan jika terdapat indikasi infeksi bakteri. Pada infeksi virus, antibiotik tidak diperlukan karena dapat menyebabkan resistensi.” Nebulisasi dapat membantu jika anak mengalami napas berat, tetapi sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter.

Sementara itu, pencegahan infeksi saluran pernapasan pada anak dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan tangan, memastikan asupan gizi seimbang, dan menciptakan lingkungan rumah yang bebas asap rokok. Namun, salah satu langkah pencegahan yang sangat penting dan sering ditanyakan orang tua adalah vaksinasi.

Vaksinasi pada anak idealnya dilakukan sesuai dengan jadwal imunisasi yang direkomendasikan sejak bayi, karena sistem kekebalan tubuh anak perlu dibangun secara bertahap. Beberapa vaksin memiliki peran langsung dalam mencegah infeksi saluran pernapasan atau menurunkan risiko infeksi berat.

Dr. Fanny menjelaskan bahwa imunisasi bukan hanya melindungi anak dari tertular penyakit, tetapi juga membantu meringankan gejala jika anak tetap terinfeksi. “Vaksinasi membantu tubuh anak mengenali kuman lebih cepat sehingga risiko infeksi berat, termasuk yang mengenai paru, dapat ditekan,” jelasnya.

Secara umum, vaksin yang berkaitan erat dengan infeksi saluran pernapasan antara lain:

  • Vaksin dasar bayi, seperti DPT dan Hib, yang diberikan sejak usia dua bulan untuk melindungi dari penyakit infeksi serius yang dapat menyerang saluran napas.
  • Vaksin pneumokokus (PCV), yang dianjurkan sejak usia bayi untuk mencegah pneumonia dan infeksi paru berat.
  • Vaksin influenza, yang dapat diberikan mulai usia enam bulan dan perlu diulang setiap tahun, terutama pada anak yang sering sakit atau memiliki faktor risiko tertentu.

Jika anak belum menerima vaksin sesuai jadwal, orang tua tidak perlu langsung cemas. Vaksinasi tetap dapat dilakukan melalui program imunisasi kejar sesuai anjuran dokter. Konsultasi dengan dokter anak atau dokter spesialis akan membantu menentukan jadwal yang paling sesuai dengan kondisi dan usia anak.

Dengan vaksinasi yang tepat waktu dan lingkungan yang sehat, risiko infeksi saluran pernapasan pada anak dapat ditekan secara signifikan, sekaligus memberikan rasa aman yang lebih besar bagi orang tua.

Melihat anak sakit memang tidak pernah mudah. Namun, orang tua tidak perlu langsung panik. “Tetap tenang, amati kondisi anak, dan jangan ragu membawa anak ke dokter jika muncul tanda bahaya seperti demam yang tidak turun, anak tidak mau makan, atau sesak napas,” pesan dr. Fanny menutup perbincangan.

Detail isi artikel

  • Apa Itu Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak?
  • Infeksi Saluran Pernapasan Atas dan Bawah, Apa Bedanya?
  • Tanda-Tanda yang Bisa Diamati di Rumah
  • Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Dokter?
  • Penanganan di Rumah dan Penggunaan Obat

Artikel Terkait

Waspada "Super Flu" pada Si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Pubertas pada Anak Laki Laki dan Perempuan: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Anak Usia SD

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Waspada "Super Flu" pada Si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Kanak-kanak

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Remaja

Pubertas pada Anak Laki Laki dan Perempuan: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Anak Usia SD

Kanak-kanak

Influenza A pada Anak dan Keluarga Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Kanak-kanak

Tips Kembali Sekolah Setelah Liburan Tanpa Drama

Kanak-kanak

Tips Praktis untuk Orang Tua: Cara Mengajak Anak Membuat Resolusi Tahun Baru

Kanak-kanak

Penting untuk Orang Tua: Langkah Aman Mencegah Anak Hilang atau Diculik di Tempat Umum

Kanak-kanak

Pneumonia pada Anak: Cara Mengenali Gejala dan Mencegahnya Sejak Dini