Balita

6 Cara Hadapi Orang Tua yang Suka Intervensi Dalam Pengasuhan

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 2 March 2026
Bacaan 4 menit

Orang tua dan mertua adalah bagian dari support system atau tim inti yang ikut mendukung proses pembentukan karakter anak. Tapi sering kali ekspresi cinta kepada anak kita yang adalah cucu mereka justru membuat pola pengasuhan yang sudah Anda jalankan jadi berantakan. Apalagi budaya di Indonesia sangat memberikan ruang bagi kakek-nenek untuk intervensi dalam pola pengasuhan anak.

Lalu apa yang bisa dilakukan agar anak-anak tidak punya “pelarian” setiap kali ayah dan ibu tengah menegakkan peraturan? Dan bagaimana caranya menyampaikan kepada kakek-nenek agar tidak mengintervensi pola pengasuhan yang sudah ayah dan ibu sepakati?

1. Jangan langsung defensif

Jill Spiegel, penulis buku How to Talk to Anyone About Anything mengingatkan ayah dan ibu jangan langsung defensif ketika kakek-nenek memberikan masukan. Walaupun cara penyampaian kakek-nenek sering kali membuat Anda terpancing emosi seperti, “Aduh, kamu salah, seharusnya cara memberi makan anak tidak seperti ini.” Atau tak jarang juga mereka memulai nasehatnya seperti ini, “Kamu ngerti nggak sih cara menyusui yang benar? Kok anakmu masih menangis terus, pasti ASInya kurang!”

Tidak mudah memang menahan emosi ketika mendengar komentar seperti itu. Tapi menurut Spiegel, komentar tersebut sebenarnya bagian dari reaksi natural orang tua ketika melihat anak mereka kesulitan. “Itu adalah insting mereka untuk menawarkan bantuan sebagai orang tua.”

2. Jawablah dengan tenang

“Jangan langsung marah, karena hanya akan menghabiskan energi,” saran Laurie Puhn, konselor pernikahan yang juga penulis buku Fight Less, Love More. Jika orang tua atau mertua memberikan masukan tentang cara mengasuh anak, berilah respon yang bijak. “Mungkin Anda bisa bilang, terima kasih untuk masukannya, kami akan pertimbangkan.”


Lagipula, sambung Puhn, tidak semua masukan dari orang lain tentang pengasuhan anak harus diterapkan. “Meskipun yang memberi masukan itu adalah Ibu kita sendiri, bukan berarti semua harus diterapkan sepenuhnya.”

3. Buat kesepakatan dengan pasangan dalam menghadapi orang luar

Sebelum memberikan penjelasan panjang lebar kepada orang tua atau mertua tentang pola asuh yang diterapkan pada anak, sebaiknya Anda dengan pasangan sudah satu suara tentang pengasuhan. Sepakati juga bagaimana reaksi yang diberikan apabila ada orang luar yang mempertanyakan atau mengintervensi pengasuhan yang sudah disepakati. “Orang luar di sini termasuk orang tua, mertua, atau teman,” jelas Spiegel.

Kadang situasinya sedikit berbeda ketika menghadapi mertua. “Kita bisa jadi sensitif ketika mertua menyampaikan kritiknya dan tidak bisa leluasa menjelaskan secara langsung kepada mereka. Maka mintalah suami untuk menjelaskan,” saran Spiegel. Tapi jika komunikasi serta interaksi Anda dengan mertua berjalan baik, maka tak ada salahnya untuk menjelaskan tentang pola pengasuhan yang diterapkan kepada anak-anak. “Sehingga Anda dan mertua bisa selaras dalam menciptakan pola pengasuhan yang sama.”

4. Berdiskusilah bersama kakek-nenek dalam situasi yang positif

Akan ada masanya kakek-nenek “melanggar” kesepakatan yang sudah dibuat karena merasa tidak tega menolak keinginan cucu. Spiegel menyebutkan aturan yang sering dilanggar kakek-nenek adalah memberikan camilan mendekati jam makan. Bagi kakek-nenek, ini adalah hal sepele tapi bagi Anda ini membuat anak tidak mau makan atau jam makannya jadi mundur. “Apabila masukan atau tindakan yang dilakukan begitu mengganggu otoritas Anda sebagai orang tua, maka tak ada salahnya untuk berdiskusi secara serius dengan kakek-nenek.”

Tapi ingat diskusi tetap harus dilakukan dengan situasi yang kondusif bukan untuk mengkonfrontasi. “Ingat, bagaimanapun juga kakek-nenek dari anak-anak kita tak akan pernah punya niat untuk mencelakakan mereka. Jadi berdiskusilah dengan penuh rasa hormat kepada orang tua atau mertua.” 

5. Tegaslah pada hal yang prinsipil

Terkadang orang tua mempercayai segala hal yang mereka lakukan dulu kepada Anda dan pasangan bisa diterapkan kepada cucu mereka. Misalnya, Chery Wu, MD, dokter anak dari Manhattan, menyontohkan, kakek-nenek menganggap boleh saja memberikan air putih kepada bayi di bawah 6 bulan. “Ini tidak benar, dan Anda wajib untuk menolaknya. Tapi berikan penjelasan juga mengapa pemberian air putih pada bayi di bawah 6 bulan tidak direkomendasikan.”

Atau jika Anda menerapkan aturan untuk tidak menonton televisi sebelum tidur, tapi kakek-neneknya membolehkan. “Ada kalanya kakek-nenek harus mematuhi aturan yang kita buat kepada anak yang adalah cucu mereka. Karena konsistensi adalah hal dasar dalam membentuk kesadaran anak.”

6. Ajak orang tua/mertua bertemu dengan ahlinya

Jika orang tua atau mertua masih gigih akan satu hal yang berkaitan dengan pengasuhan anak, dan penjelasan Anda tetap tidak membuat mereka berubah, ajaklah mereka bertemu dengan ahlinya. “Pada saat Anda membawa anak ke dokter, ajak jugalah kakek-neneknya agar mereka mendengar penjelasan langsung dari ahlinya,”saran Wu.

Libatkan kakek-nenek dalam diskusi yang Anda lakukan dengan dokter, maka dengan begitu mereka tidak merasa seperti sedang “diadili”. Bahkan bisa jadi kakek-nenek justru belajar hal baru dan menyadari bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dari saat mereka membesarkan anak-anak hingga sekarang.

Detail isi artikel

  • 1. Jangan langsung defensif
  • 2. Jawablah dengan tenang
  • 3. Buat kesepakatan dengan pasangan dalam menghadapi orang luar
  • 4. Berdiskusilah bersama kakek-nenek dalam situasi yang positif
  • 5. Tegaslah pada hal yang prinsipil
  • 6. Ajak orang tua/mertua bertemu dengan ahlinya

Artikel Terkait

Waspada Virus Nipah, Ini Penjelasan Kemenkes dan IDAI untuk Orang Tua

Waspada "Super Flu" pada si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Waspada Virus Nipah, Ini Penjelasan Kemenkes dan IDAI untuk Orang Tua

Kanak-kanak

Waspada "Super Flu" pada si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Kanak-kanak

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Remaja

Pubertas pada Anak Laki Laki dan Perempuan: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Anak Usia SD

Kanak-kanak

Influenza A pada Anak dan Keluarga Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Kanak-kanak

Tips Kembali Sekolah Setelah Liburan Tanpa Drama

Kanak-kanak

Tips Praktis untuk Orang Tua: Cara Mengajak Anak Membuat Resolusi Tahun Baru

Balita

Anak Sering Batuk dan Pilek? Kenali Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak.