Kanak-kanak

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 10 January 2026
Bacaan 5 menit

Film Suka Duka Tawa karya sutradara Aco Tenriyagelli memperkenalkan publik pada istilah yatim pasif, padanan lokal dari fenomena fatherless. Istilah ini menggambarkan anak yang secara biologis memiliki ayah, tetapi tidak merasakan keterlibatan dan kasih sayang yang utuh dari figur tersebut, sebuah isu yang kemudian menjadi refleksi dalam dinamika keluarga modern.

Fenomena fatherless semakin mendapat sorotan karena relevansinya dengan kehidupan keluarga masa kini. Banyak anak tumbuh dalam situasi di mana ayah secara biologis hadir, namun perannya dalam pengasuhan sehari‑hari kurang atau hampir tidak ada. Keadaan ini memiliki konsekuensi beragam pada perkembangan anak, mulai dari kesejahteraan emosional hingga kemampuan sosial.

image.alt

Apa Itu Fatherless atau Yatim Pasif?

Fatherless secara sederhana merujuk pada kondisi ketiadaan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak, baik karena ayah tidak tinggal serumah, tidak berinteraksi secara emosional, atau tidak hadir dalam peristiwa penting tumbuh kembang anak. Berbeda dengan istilah yatim secara tradisional, anak fatherless tetap memiliki ayah secara biologis namun figur itu tidak hadir sebagai pengasuh atau pendukung utama dalam pengembangan psikososial mereka.

Istilah yatim pasif yang diperkenalkan Suka Duka Tawa memperkaya pemahaman masyarakat, yaitu bukan kehilangan ayah secara fisik, tetapi kehilangan kehadiran emosional dan dukungan yang seharusnya hadir dalam hubungan orang tua‑anak.

Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 yang dirilis oleh BKKBN, sejumlah temuan penting menunjukkan bahwa fenomena fatherless bukan isu kecil:

  • Sekitar 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, artinya satu dari empat anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang memadai dalam kehidupan sehari‑hari mereka.
  • Status pekerjaan ayah memengaruhi keterlibatan: keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja memiliki angka fatherless lebih tinggi dibandingkan keluarga yang kepala keluarganya bekerja.
  • Perbedaan fatherless menurut tingkat pendidikan juga terpantau, menunjukkan hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan keterlibatan ayah.

Temuan‑temuan ini menunjukkan bahwa fatherless menyentuh banyak lapisan masyarakat dan berkaitan dengan berbagai faktor sosial ekonomi yang perlu diwaspadai.

Bentuk-Bentuk Fatherless

Fenomena fatherless tidak hadir dalam satu wajah saja. Berikut beberapa bentuk yang kerap tampak dalam kehidupan nyata:

1. Hubungan Ayah dan Anak yang Merenggang

Hubungan ayah dan anak yang merenggang kerap terjadi akibat konflik keluarga, perceraian, atau pola komunikasi yang tidak pernah benar‑benar terbangun. Dalam situasi ini, ayah mungkin masih hadir secara fisik atau administratif, tetapi anak tumbuh tanpa kedekatan emosional atau ruang aman untuk berbagi cerita.

Realitas ini terasa dekat dengan kisah dalam film Suka Duka Tawa karya Aco Tenriyagelli, yang memperlihatkan bagaimana jarak emosional yang dibiarkan tumbuh diam‑diam bisa menjadi luka tersendiri bagi anak. Film tersebut mengangkat berbagai aspek hubungan keluarga dengan pendekatan yang hangat dan reflektif terhadap dinamika orang tua‑anak.

Dalam kehidupan sehari‑hari, jarak emosional juga tercermin dari minimnya keterlibatan ayah dalam momen penting anak, termasuk pendidikan mereka. Karena itu, berbagai inisiatif seperti kampanye ayah yang ambil rapor terus digaungkan sebagai pengingat bahwa kehadiran ayah bukan hanya soal menyediakan kebutuhan materi, tetapi juga keterlibatan aktif dalam proses tumbuh kembang anak.

2. Tidak Tinggal Serumah

Ayah yang bekerja jauh atau merantau dalam waktu lama sering kali tidak tinggal serumah dengan anak, sehingga keterpisahan fisik yang berkepanjangan membuat relasi ayah dan anak terasa jauh dan kurang intim, meskipun komunikasi tetap berjalan melalui teknologi.

3. Ada Secara Fisik, Tidak Terlibat Secara Emosional

Ayah mungkin hadir di rumah, tetapi tidak benar‑benar terlibat dalam kehidupan anak sehari‑hari. Interaksi terbatas dan komunikasi minim membuat keterlibatan emosional tidak terbangun, sehingga anak tetap merasakan ketidakhadiran figur ayah di sisi emosional.

4. Peran Ayah Terbatas pada Pencari Nafkah

Dalam pola keluarga yang masih memisahkan peran secara kaku, ayah diposisikan semata sebagai pencari nafkah. Ketika peran ini tidak diimbangi dengan keterlibatan emosional dan pengasuhan, anak tetap berisiko tumbuh dalam kondisi fatherless meskipun ayah hadir secara formal dalam keluarga.

Dampak Fenomena Fatherless bagi Anak

Ketiadaan keterlibatan ayah bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan sebuah kondisi yang dapat memengaruhi struktur kepribadian anak hingga mereka dewasa. Berikut adalah dampak yang perlu kita waspadai:

  • Kesejahteraan Emosional dan Harga Diri: Anak yang merasa kehilangan kehadiran emosional ayah seringkali mengalami kesulitan dalam mengelola emosi. Hal ini dapat memicu rendahnya harga diri (low self-esteem) karena anak merasa tidak cukup berharga untuk mendapatkan perhatian figur otoritas utamanya.
  • Hambatan dalam Interaksi Sosial: Peran ayah sangat krusial dalam membantu anak "melangkah keluar" dari ikatan simbiosis dengan ibu. Tanpa itu, anak mungkin mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya atau berinteraksi dengan figur otoritas lainnya di masa depan.
  • Dukungan Pembelajaran dan Prestasi: Keterlibatan ayah berkorelasi positif dengan motivasi belajar. Anak-anak dalam kondisi fatherless seringkali kehilangan dukungan pengawasan akademik yang seimbang, yang dapat berdampak pada prestasi mereka di sekolah.
  • Identitas dan Peran Gender: Bagi anak laki-laki, ayah adalah model utama perilaku maskulinitas yang sehat. Bagi anak perempuan, ayah adalah standar pertama bagaimana mereka seharusnya diperlakukan oleh laki-laki. Ketiadaan keterlibatan batin ini bisa mengaburkan pemahaman anak tentang dinamika relasi yang sehat di masa depan.

Dalam dunia psikologi, ada istilah yang cukup puitis namun menyedihkan untuk menggambarkan hal ini, yaitu "Father Hunger". Ini bukan lapar secara fisik, melainkan kerinduan emosional yang amat mendalam terhadap sosok ayah.

Para ahli sering mengaitkan fenomena ini dengan beberapa teori besar:

  1. Teori Kelekatan (Attachment Theory): Bayangkan seorang anak membutuhkan dua jangkar untuk merasa aman. Ketika satu jangkar (ayah) hilang secara emosional, anak akan merasa "oleng" dalam mengeksplorasi dunianya. Mereka mungkin tumbuh menjadi pribadi yang terlalu cemas atau justru sangat tertutup dalam hubungan.
  2. Luka Pengasuhan (Internalizing vs Externalizing): Secara ilmiah, anak yang mengalami "yatim pasif" cenderung mengekspresikan kesedihannya dengan dua cara. Ada yang menarik diri ke dalam (depresi atau cemas), dan ada yang meluapkannya ke luar dalam bentuk perilaku agresif sebagai bentuk protes atas ketidakhadiran batin sang ayah.
  3. Standar Relasi di Masa Depan: Ayah adalah "cetak biru" pertama bagi anak dalam memahami hubungan. Bagi anak perempuan, ayah adalah standar bagaimana ia seharusnya dihargai oleh laki-laki. Bagi anak laki-laki, ayah adalah contoh bagaimana menjadi pria yang bertanggung jawab dan penuh kasih.

Kesadaran akan dampak ini sangat penting bagi keluarga di Indonesia. Seperti pesan dalam film Suka Duka Tawa, keterlibatan batin yang konsisten adalah kunci untuk menyembuhkan luka dan membentuk hubungan yang kuat. Kehadiran fisik saja tidak pernah cukup jika tidak dibarengi dengan kehadiran hati.

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Waspada "Super Flu" pada Si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Remaja

Pubertas pada Anak Laki Laki dan Perempuan: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Anak Usia SD

Kanak-kanak

Influenza A pada Anak dan Keluarga Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Kanak-kanak

Tips Kembali Sekolah Setelah Liburan Tanpa Drama

Kanak-kanak

Tips Praktis untuk Orang Tua: Cara Mengajak Anak Membuat Resolusi Tahun Baru

Balita

Anak Sering Batuk dan Pilek? Kenali Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak.

Kanak-kanak

Pneumonia pada Anak: Cara Mengenali Gejala dan Mencegahnya Sejak Dini

Kanak-kanak

Penting untuk Orang Tua: Langkah Aman Mencegah Anak Hilang atau Diculik di Tempat Umum