Inspirasi Liburan

Film Suka Duka Tawa, Kisah Keluarga yang Menyentuh Realita Hubungan Ayah, Ibu, dan Anak

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 9 January 2026
Bacaan 3 menit

Hubungan antara orangtua dan anak tidak pernah benar benar sederhana. Ada fase ketika percakapan terasa canggung, emosi sulit diungkapkan, dan jarak perlahan terbentuk tanpa disadari. Namun di sela sela itu, selalu ada momen kecil yang menghangatkan, tawa spontan, keheningan yang bermakna, atau pelukan yang datang terlambat tetapi tetap berarti.

Nuansa itulah yang terasa begitu dekat dalam Suka Duka Tawa, film terbaru persembahan BION Studios dan Spasi Moving Image yang tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026. Film ini tidak berusaha menghadirkan keluarga yang ideal, melainkan keluarga yang nyata, dengan konflik, kesalahan, dan upaya untuk saling memahami satu sama lain.

Disutradarai oleh Aco Tenriyagelli, Suka Duka Tawa mengikuti perjalanan Tawa, diperankan oleh Rachel Amanda, dalam relasinya dengan sang ayah, Keset yang diperankan Teuku Rifnu Wikana, dan ibunya, Cantik yang diperankan Marissa Anita. Hubungan ketiganya dibangun lewat detail detail emosional yang sering luput dibicarakan dalam kehidupan sehari hari, mulai dari rasa bersalah orang tua, luka yang disimpan anak, hingga keinginan sederhana untuk dimengerti.

image.alt image.alt

Bagi banyak penonton, film ini terasa begitu personal. Konflik antara ayah dan anak, maupun kecemasan seorang ibu, disajikan bukan sebagai drama besar yang berlebihan, melainkan sebagai perjalanan emosional untuk saling memaafkan. Reza Chandika bahkan menggambarkan film ini sebagai kisah seorang bapak yang menebus dosa, refleksi dari perjuangan banyak orangtua dalam memperbaiki hubungan dengan anak mereka di masa dewasa.

Tidak sedikit pula penonton yang merasa kisah Tawa seperti potongan hidup mereka sendiri. Ada yang menontonnya bersama anak, ada pula yang melihat ulang masa kecilnya melalui adegan adegan sunyi yang justru paling menusuk. Perpaduan komedi dan drama dalam film ini membuat emosi penonton naik turun, tertawa di satu momen, lalu terdiam di momen berikutnya karena terasa terlalu dekat dengan kenyataan. Salah satu penonton, yang merupakan seorang ibu tunggal dan menonton bersama sang anak menyampaikan, “Yang kita tonton sih sebenarnya ya mirip-mirip sih sama kehidupan kita. Ya seperti itulah kehidupan di Indonesia.” Sang anak pun menambahkan, tentang betapa dekat cerita Tawa dengan kisah hidupnya.  “Sangat relate sama saya sendiri karena ayah saya juga meninggalkan saya. Pas dia ninggalin Tawa pas masih kecil di flashback-nya, itu rasanya waduh... gimana, ya,” ungkap seorang penonton yang merasa dekat dengan karakter Tawa.


image.alt image.alt image.alt

Suka Duka Tawa mengingatkan kita bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Namun selama masih ada ruang untuk mendengarkan, memahami, dan tertawa bersama, selalu ada harapan untuk memperbaiki hubungan. Dan mungkin, ketika lampu bioskop meredup dan layar mulai menyala, Anda akan menemukan potongan cerita yang terasa begitu akrab, cukup akrab hingga membuat Anda ingin duduk sampai akhir, menyaksikan bagaimana sebuah keluarga belajar berdamai dengan masa lalu mereka.

Artikel Lainnya

Inspirasi Liburan

4 Tips Liburan Bersama Anak yang Lebih Menyenangkan dan Minim Drama

Ide Stimulasi

Latih Empati Anak Maksimal: 7 Ide Main yang Bikin Si Kecil Jadi Lebih Peka & Peduli

Tanya Ahli

Bukan Galak, Inilah Gaya Parenting Paling Efektif Menurut Psikolog Ratih Ibrahim

Tanya Ahli

Breaking The Cycle: Cara Menyembuhkan Inner Child untuk Pola Asuh yang Lebih Baik

Tanya Ahli

Keracunan MBG: Bagaimana Panduan Mempersiapkan Menu Bergizi bagi Anak?

Rekomendasi

Review Buku: I Am Me Series – Teman Anak dalam Proses Tumbuh Kembang

Inspirasi Liburan

5 Tips Membawa Anak ke Bioskop untuk Pertama Kalinya

Ide Stimulasi

Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Bikin Otak Anak Makin Cerdas