Bayi

Ingin Relaktasi, Inilah Panduannya!

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 8 August 2025
Bacaan 3 menit

Setiap ibu memiliki tantangannya sendiri ketika menjalani proses menyusui, ada yang lancar ada yang perlu berjuang sedikit lebih keras. Pada para ibu yang mengalami kendala dalam memberikan ASI, pilihan berat pun harus diambil yaitu menghentikan pemberian ASI. Tapi terkadang, keinginan untuk memenuhi hak anak dalam menikmati ASI minimal selama 6 bulan pertama sering kali menimbulkan pertanyaan. Mungkinkah kembali menyusui jika sempat terhenti selama beberapa saat?

 

Proses menyusui kembali setelah berhenti beberapa saat atau relaktasi menurut dr. Ameetha Drupadi, CIMI., sangat bisa dilakukan. Dokter yang juga konselor ASI ini bahkan menyakinkan, jika proses relaktasi dimulai maka secara perlahan tubuh ibu akan meningkatkan produksi ASI sesuai kebutuhannya. “Yang penting, ibu tetap semangat, sabar, dan yakin kalau relaktasi bisa dilakukan,” ucap dr. Ameetha.

 

Lantas, apa saja yang harus dilakukan ibu jika ingin melakukan relaktasi? Dengan antusias dr. Ameetha pun memberikan panduan suksesnya berikut ini:

  1. Lakukan skin to skin contact. Untuk mengembalikan bonding atau ikatan emosional antara ibu dengan bayi, Ameetha menyarankan melakukan skin to skin contact. “Lakukan selama 24 jam penuh. Tujuannya untuk apa? Agar bayi bisa merasa nyaman kembali dalam dekapan ibu.”
  2. Hentikan penggunaan botol dot. Biasanya bayi yang sempat berhenti menyusui akan minum susu menggunakan botol dot maka menurut Ameetha penggunaan botol dot harus dihentikan. Ia mengibaratkan botol dot sebagai “selingkuhan” yang harus ditinggalkan. “Harus benar-benar dihentikan dan minum susu digantikan dengan gelas atau sendok.” Lalu, kurangi asupan susu untuk kemudian dilengkapi dengan menyusui secara langsung. Ameetha lalu menyontohkan, jika menggunakan botol dot bayi minum susu sebanyak 120ml maka kurangi menjadi sekitar 40ml, lalu lanjutkan dengan menyusui. “Jadi, saat mencoba untuk menyusui lagi, bayi tidak dalam keadaan lapar sehingga prosesnya peralihannya bisa lebih tenang.” Proses peralihan botol dot ke menyusui secara langsung ini haruslah dilakukan secara konsisten. “Biasanya dalam waktu 3x24 jam, bayi sudah mau menyusui kembali,” jelas Ameetha dengan antusias.
  3. Pastikan posisi menyusui sudah benar. Lagi-lagi, Ameetha mengingatkan kalau sukses tidaknya menyusui terletak pada posisi perlekatan yang benar. Pastikan mulut bayi menghisap aerola payudara ibu, bukan puting ibu. Karena di bawah aerolalah terdapat kantong-kantong ASI yang ketika dihisap akan menstimulasi hormon penghasil ASI. “Lalu perhatikan juga kesiapan bayi, jadi sebaiknya lakukan relaktasi tanpa memaksa bayi untuk mengikuti tahapan-tahapan ini. Semakin dipaksa, bayi justru akan marah dan menolak relaktasi,” saran Ameetha yang juga sering membagikan tips-tips seputar menyusui di akun Instagramnya.
  4. Konsumsi makanan yang dapat menstimulasi produksi ASI. Saat bayi menghisap aerola ibu dengan benar maka otak akan mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan besar dalam memproduksi ASI. Dan semakin sering bayi menyusui secara langsung atau direct breastfeeding maka secara alamiah tubuh akan menambah produksi ASI mengikuti kebutuhan bayi. Tapi jika memang dirasa perlu, Ameetha menyarankan agar ibu juga mengonsumsi makanan-makanan yang dapat menstimulasi produksi ASI. Makanan yang mengandung laktogogue, zat herbal yang terbukti efektif menambah serta memperlancar ASI bisa membantu meningkatkan produksi ASI. Daun katuk, sayur bayam, dan daun bangun-bangun adalah beberapa contoh sayuran yang kaya akan laktogogue. Selain itu phytoestrogen yang ada dalam kacang-kacangan juga sangat efektif meningkatkan produksi ASI.
  5. Pentingnya suntikan semangat dari suami. Komunikasikan dengan suami akan niatan ibu untuk melakukan relaktasi karena proses relaktasi harus dilakukan dengan sabar dan telaten. Dan respon positif dari suami bisa menambah rasa percaya diri ibu untuk menjalani semua tahapan-tahapan relaktasi. Bahkan ibu akan lebih percaya diri jika keluarga terdekat yang sering berinteraksi dengan ibu juga memberikan dukungan untuk menjalani relaktasi.

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Waspada "Super Flu" pada Si Kecil: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melindungi Keluarga?

Kanak-kanak

Fenomena Fatherless dan Realita Yatim Pasif: Ketika Ayah Ada, Namun Tak Hadir Sepenuhnya

Remaja

Pubertas pada Anak Laki Laki dan Perempuan: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Anak Usia SD

Kanak-kanak

Influenza A pada Anak dan Keluarga Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Kanak-kanak

Tips Kembali Sekolah Setelah Liburan Tanpa Drama

Kanak-kanak

Tips Praktis untuk Orang Tua: Cara Mengajak Anak Membuat Resolusi Tahun Baru

Balita

Anak Sering Batuk dan Pilek? Kenali Infeksi Saluran Pernapasan pada Anak.

Kanak-kanak

Penting untuk Orang Tua: Langkah Aman Mencegah Anak Hilang atau Diculik di Tempat Umum