Momen pasca-Lebaran biasanya menjadi waktu yang paling sibuk bagi para orang tua untuk melakukan "sidak" amplop. Dengan senyum manis dan nada meyakinkan, kalimat sakti itu pun meluncur, "Sini, sayang, uangnya Bunda simpanin dulu ya, nanti kalau sudah banyak baru kita beli mainan." Si Kecil yang belum paham nilai angka pun menyerahkan hartanya dengan sukarela, percaya penuh bahwa uangnya berada di tangan yang aman.
Namun, mari kita jujur sejenak di depan cermin, apakah uang itu benar-benar masuk ke tabungan masa depan, atau perlahan-lahan "bermutasi" menjadi cicilan panci, air fryer idaman yang sedang promo, atau justru ludes untuk menutupi check-out keranjang belanja online yang sudah menumpuk? Tanpa kita sadari, kita sedang mempraktikkan bentuk "investasi bodong" yang paling nyata di dalam rumah sendiri. Kita menjanjikan hasil besar di masa depan, padahal uangnya habis untuk kebutuhan konsumtif yang tidak ada hubungannya dengan si Kecil. Alih-alih menjadi "pihak ketiga" yang tidak transparan dan berisiko merusak kepercayaan anak, yuk mulai ajarkan mereka untuk berdaulat atas uangnya sendiri melalui langkah-langkah hangat berikut ini:









