Inspirasi Liburan

Belajar Memahami Dunia Anak Lewat Na Willa, Film Keluarga Terbaru Persembahan dari Visinema

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 13 March 2026
Bacaan 4 menit

Pernahkah Anda merindukan saat-saat di mana dunia terasa begitu luas dan penuh warna? Bagi seorang anak, kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal yang paling sederhana, seperti mengejar layangan di lapangan atau sekadar memanggil teman dari balik pagar rumah. Menyambut momen Lebaran 2026, Visinema Studios mempersembahkan sebuah kado istimewa untuk keluarga Indonesia melalui film live action terbaru berjudul Na Willa. Film ini merupakan sebuah kolaborasi kreatif antara sutradara Ryan Adriandhy yang diadaptasi langsung dari novel karya Reda Gaudiamo. Hadirnya film ini menjadi ajakan bagi Anda untuk sejenak melepaskan peran dewasa dan kembali merasakan dunia dari sudut pandang anak-anak dengan rasa ingin tahu yang jujur serta imajinasi yang hidup.

Berlatar di Indonesia era 1960-an, Na Willa mengisahkan perjalanan seorang gadis berusia enam tahun bernama Na Willa. Baginya, gang kecil tempat tinggalnya adalah sebuah semesta yang penuh dengan keajaiban. Namun, ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, ia belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa harus kehilangan imajinasi. Ryan Adriandhy, sutradara sekaligus penulis film ini, ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali cara kita memandang dunia. Ia mengungkapkan, "Sebagai orang dewasa, kita sering lupa bagaimana dulu kita memandang dunia. Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton melihat dunia dari mata anak-anak, mata yang jujur, penuh rasa penasaran, dan selalu menemukan keajaiban dari apa pun yang dihadirkan dunia".

Film ini bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan juga perjalanan reflektif tentang keluarga. Reda Gaudiamo menekankan bahwa Na Willa mengangkat nilai tentang tanggung jawab, rasa hormat, dan cara menerima perbedaan dengan lembut. Ini adalah momen di mana orang tua bisa belajar memahami cara berpikir anak, dan anak belajar memahami dunianya yang terus berkembang. Anggia Kharisma, Produser Na Willa, memastikan bahwa film ini dirancang sebagai ruang yang aman untuk semua generasi. "Na Willa merupakan bentuk komitmen Visinema Studios yang mengajak kita mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Ajakan untuk masuk dan merasakan sebuah dunia yang dibangun dengan imajinasi, kejujuran, dan keberanian anak-anak," tuturnya.

image.alt image.alt

Di Balik Nama Na Willa, Sebuah Memoar yang Menjadi Nyata

Di balik kehangatannya, terdapat fakta personal yang mendalam dari sang penulis, Reda Gaudiamo. Nama "Na Willa" sebenarnya adalah panggilan sayang dari ibunya, yang juga ia panggil Mak. Dalam adat Suku Sabu, terdapat tradisi memberikan nama panggilan kepada anak yang berbeda dari nama asli di akta kelahiran, Na Willa sendiri berarti "Bunga Merah", yang juga merujuk pada nama aslinya, Reda. Meskipun latar tempat dan beberapa karakter, seperti tokoh Dul diambil dari memori masa kecil Reda akan temannya saat tinggal di Surabaya, banyak konflik dalam cerita ini justru terinspirasi dari pengalaman Soca, putri kandungnya.

Kehangatan proses belajar di rumah yang dijalani Na Willa, di mana ia diajarkan membaca dan menulis oleh Mak ternyata mencerminkan kerinduan pribadi Reda terhadap konsep pendidikan yang lebih personal. Dalam film, kita melihat bagaimana Luisa Adreena (pemeran Na Willa) merasa proses belajarnya terasa seperti bermain. Hal ini sangat kontras dengan pergumulan nyata yang dialami Reda saat menyekolahkan putrinya ke sekolah formal. Reda mengenang betapa ia sebenarnya menginginkan sang putri untuk menempuh pendidikan di rumah saja (homeschooling), sementara saat itu, Soca tampak sangat siap untuk menghadapi dunia luar. "Sewaktu masuk TK, Soca sangat mandiri. Nggak mau ditungguin. Padahal saya maunya dia homeschooling saja. Karena ayahnya juga stay-at-home dad saat itu," kenang Reda.

image.alt

Perubahan drastis justru terjadi saat menginjak bangku SD. Lingkungan yang kaku dan jarak yang jauh mengubah keceriaan sang putri semata wayangnya menjadi tekanan, sebuah penyesalan yang masih membekas di hati Reda hingga kini, "Tapi waktu masuk SD, Soca nggak terlalu gembira karena sekolahnya jauh dan harus bangun pagi. Jadi stress! Dan penyesalan saya memasukkan Soca ke sekolah itu sungguh tiada habisnya sampai sekarang. I wish I could do it all over again. Sekolah itu konvensional dan sangat kaku."

Namun, layaknya sebuah film dengan akhir yang hangat, Soca pun perlahan menemukan dunianya sendiri. Meski lingkungan sekolahnya terasa kaku, ia mulai beradaptasi karena kehadiran teman-temannya yang begitu banyak di sana, membuktikan bahwa bagi seorang anak, persahabatan dan kebersamaan seringkali menjadi pelangi di tengah badai. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi kita sebagai orang tua untuk selalu peka terhadap kebahagiaan anak. Reda Gaudiamo pun menitipkan pesan yang sangat berharga untuk para orang tua yang mungkin sedang mengalami pergumulan dalam memilih sekolah anak, "Listen to your child. Observe them from time to time. Kalau mereka nggak happy, ambil langkah yang diperlukan. Jangan menunggu."

Lebaran adalah saat yang tepat untuk pulang, berkumpul, dan merayakan kebersamaan. Mari jadikan Lebaran 2026 sebagai momen untuk kembali #JadiAnakAnak bersama seluruh anggota keluarga melalui kisah Na Willa yang akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 18 Maret 2026.

Video Poster

Sumber Video : Na Willa Trailer

Artikel Lainnya

Inspirasi Liburan

Pelangi di Mars: Sebuah Film Sci-Fi yang Akan Menjadi Pintu Imajinasi Anak Indonesia

Inspirasi Liburan

Film Suka Duka Tawa, Kisah Keluarga yang Menyentuh Realita Hubungan Ayah, Ibu, dan Anak

Inspirasi Liburan

4 Tips Liburan Bersama Anak yang Lebih Menyenangkan dan Minim Drama

Ide Stimulasi

Latih Empati Anak Maksimal: 7 Ide Main yang Bikin Si Kecil Jadi Lebih Peka & Peduli

Tanya Ahli

Bukan Galak, Inilah Gaya Parenting Paling Efektif Menurut Psikolog Ratih Ibrahim

Tanya Ahli

Breaking The Cycle: Cara Menyembuhkan Inner Child untuk Pola Asuh yang Lebih Baik

Tanya Ahli

Keracunan MBG: Bagaimana Panduan Mempersiapkan Menu Bergizi bagi Anak?

Rekomendasi

Review Buku: I Am Me Series – Teman Anak dalam Proses Tumbuh Kembang