Kesehatan Mental

Trik Kelola Emosi Dalam Menghadapi Kehidupan Keluarga

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 18 June 2026
Bacaan 6 menit

Untuk sebagian orang, parenting bisa memicu munculnya kembali rasa marah yang tidak selesai di masa lalu atau emosi negatif lainnya dari masa kecil Anda. Trauma atau ‘luka’ masa lalu tersebut, misalnya dalam bentuk pelecehan dan penelantaran di masa kanak-kanak, dapat membuat seseorang bersikap berlebihan ketika sedang merasakan emosi negatif. Dengan kata lain, memiliki kesulitan untuk mengendalikan diri saat sedang merasa marah. Menurut Laura Markham, Ph.D, psikolog klinis di Columbia University, AS, dan penulis buku-buku parenting, hal tersebut menjadi fenomena psikologis yang biasa disebut ‘ghost in the nursery’. Sosok anak memicu kemunculan perasan intens Anda di masa kecil yang secara tidak sadar Anda respon dan rasakan kembali. Padahal, perasaan masa kecil itu mungkin sudah terlupakan jauh di dalam jiwa Anda, namun ketika menghadapi hambatan dalam mengasuh anak, perasaan tersebut dapat muncul lagi. Ketakutan dan kemarahan di masa kanak-kanak tersebut sangat kuat dan memang bisa membuat orang dewasa kewalahan ketika merasakannya kembali.

Kenali Emosi Negatif dan Selesaikan Pemicunya

Meski fenomena tersebut terdengar mengerikan, tapi tenanglah, selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Untuk itu, psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., membagikan cara untuk mengelola dan meredakan emosi negatif. Psikolog yang akrab dipanggil Nina ini menjelaskan, bahwa hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengenali dulu emosi negatif yang paling mendominasi diri Anda. Apakah itu sedih, marah, takut, atau lainnya. Yang kedua, mengenali kapan emosi itu muncul, apa saja pemicunya, dan apa kondisi yang dapat membuat Anda marah. “Ada orang yang mudah sekali terpicu untuk marah ketika dia lapar. Ada juga yang senewen kalau tetangganya mulai berisik. Kebanyakan orang kalau sedang lelah membuat dia jadi tidak bisa mengontrol emosinya. Bisa juga karena lagi stres atau sedang mendapat tekanan dari orang lain maupun dirinya sendiri,” jelas Nina.

Yang terakhir adalah, dengan mencoba mengatur diri dan bersamaan dengan menyelesaikan pemicu-pemicu tersebut. Misalnya, mengajak bicara tetangga yang kerap membuat keributan agar tidak ribut lagi atau makan tepat waktu sehingga tidak kelaparan, dan sebagainya, sehingga kemudian menjadi tak mudah emosi. Lalu, bagaimana cara mengatasi stres? Bagi warga Ibukota, kesibukan dan tuntutan pekerjaan kerap membuat stres. Apalagi bila ditambah harus menghadapi kemacetan jalan sepulang bekerja dan masih harus mengerjakan kewajiban sebagai orang tua setibanya di rumah. Inilah trik dalam menghadapi stres tersebut:

Terapkan Trik 4A Dalam Menghadapi Stres

Trik ini dibagi ke dalam empat tingkat, dan disebut 4A karena terdiri dari avoid, alter, adapt, dan accept. Keempat trik ini juga bisa Anda terapkan dalam menghadapi dan mengasuh anak agar terhindar dari emosi negatif.

#1 Avoid (Menghindari)

Avoid berarti menghindari. “Jadi, kalau bisa dihindari (pemicu emosinya), ya dihindari saja. Misalnya, penyebab saya marah adalah ketika menghadapai kemacetan, nah dihindari jalan yang macet itu,” ucap Nina. Namun, saat Anda memang harus melalui jalan yang macet tersebut, berarti trik tingkat pertama ini tidak bisa dilakukan, sehingga harus ‘naik kelas’ ke trik berikutnya.

#2 Alter (Mengubah Situasi)

Nina menjelaskan, ketika pemicu emosi tak dapat dihindari, maka ubahlah situasinya. Contohnya, bila tidak bisa menghindari kemacetan, maka situasinya diubah dengan tidak membawa kendaraan pribadi. Anda bisa naik transportasi umum, seperti MRT, atau transportasi online. “Berusaha mengubah kondisi termasuk juga menyampaikan pemicu kemarahan kita pada si pemicunya. Misalnya, kita emosi setiap tetangga mulai membuat kebisingan, maka sampaikanlah dengan baik-baik ke tetangga untuk tidak berisik,” tambah Nina.

#3 Adapt (Beradaptasi)

Kalau pemicu emosi tidak bisa dihindari dan diubah situasinya, ini berarti trik 1 dan 2 tadi tidak berhasil, sehingga harus naik tingkat lagi ke adapt, yaitu beradaptasi. Contoh kasusnya, Anda harus melalui jalan yang macet dan menggunakan kendaraan pribadi karena sedang membawa banyak barang, maka cobalah untuk beradaptasi di situasi dan kondisinya. Buatlah kondisi tersebut senyaman mungkin bagi Anda dengan berbagai cara. Contohnya, mendengarkan radio atau lagu kesukaan selama berada di tengah kemacetan, bawa snack atau minuman favorit. “Jadi pada saat melalui kemacetan, bisa tetap nyaman. Atau misalnya ketika sampai di rumah menyalakan aromatherapy yang kita sukai,” ucap psikolog yang praktik di Klinik Terpadu Universitas Indonesia ini.

#4 Accept (Menerima)

Ketika trik 1, 2, dan 3 tidak berhasil juga, maka cobalah trik ke-4. “Accept itu menerima. Ya sudah, apa boleh buat, memang harus melewati jalan macet, menghadapi tetangga yang berisik, tapi kita jadi menyadari ada hal yang menguntungkan walaupun hal tersebut membuat kita emosi,” jelas Nina. Jadi, accept ini bisa dibilang semacam berusaha berpikir positif, tapi lebih ke arah bahwa diri Anda menerima dengan sepenuh hati, dengan ikhlas bahwa pemicu emosi kita memang ada, namun memberi keuntungan pula pada Anda.

‘Grounding’ Sesaat Sebelum Emosi

Selain beberapa trik di atas, Nina juga membeberkan trik mudah dalam mengatur emosi. Menurut Nina, grounding merupakan sikap ‘membumikan diri’, menjejak tanah. “Yang kita lakukan begini, misalnya ada sesuatu yang membuat Anda marah besar, lalu entah pindah ruangan atau tetap di situ, lalu pejamkan mata, tarik napas dalam, dan aturlah napas Anda,” jelas Nina. Ketika Anda mengatur napas, oksigen akan masuk ke dalam diri dan bisa memperlancar aliran darah, memperlancar oksigen yang masuk ke tubuh, termasuk masuk ke otak, sehingga kita bisa mengatur emosi kita. Tentunya hal ini bisa membuat Anda berpikir lebih jernih karena ada asupan oksigen ke otak.

Bagaimana Mengobati ‘Luka’ Masa Lalu?

Jika salah satu pemicu emosi negatif yang dirasakan berasal dari trauma masa kecil atau luka masa lalu yang membuat Anda menjadi mudah emosi dan Anda sudah kewalahan, tak bisa lagi mengatasinya dengan trik-trik dari Nina di atas, maka sudah waktunya Anda datang ke psikolog dewasa. “Kalau sudah sampai ke tahap ini sebaiknya pergi ke psikolog. Nanti oleh psikolog akan dibantu untuk mengenali traumanya untuk menyembuhkan trauma tersebut. Ada begitu banyak tekniknya dan agak terlalu sulit kalau dijelaskan ke masyarakat awam. Cobalah ke psikolog untuk penanganan trauma, seberapa sering kita konsul ke psikolog itu tergantung sebesar apa masalah trauma kita itu. Semakin kita belum memaafkan trauma itu, maka semakin lama pula trauma itu sembuh,” ungkap Nina.

Jika Sudah Terlanjur Emosi Di Depan Anak

Ketika Anda sudah terlanjur marah di depan anak, jadilah contoh yang baik buat anak dengan meminta maaf. Marah bukanlah emosi yang baik, tetapi marah boleh saja, yang tak boleh adalah berteriak pada pemicu emosinya. Karena itu, ada baiknya bila Anda meminta maaf pada anak karena telah berteriak dan tak bisa mengendalikan emosi Anda. Ini akan menunjukkan pada anak bahwa boleh saja marah sesekali, tapi yang terpenting adalah mencari cara terbaik untuk menangani emosi.

Detail isi artikel

  • Kenali Emosi Negatif dan Selesaikan Pemicunya
  • Terapkan Trik 4A Dalam Menghadapi Stres
  • #1 Avoid (Menghindari)
  • #2 Alter (Mengubah Situasi)
  • #3 Adapt (Beradaptasi)
  • #4 Accept (Menerima)
  • ‘Grounding’ Sesaat Sebelum Emosi
  • Bagaimana Mengobati ‘Luka’ Masa Lalu?
  • Jika Sudah Terlanjur Emosi Di Depan Anak

Artikel Terkait

Drama Beberes Rumah? Ini 4 Cara Atasi Sakit Pinggang Ibu

Gaya Parenting Orang Tua Erling Haaland: Mendidik Anak Menjadi Juara Tanpa Tekanan

Trik Mengatasi Tantangan di Kantor bagi Ibu Bekerja

Artikel Lainnya

Kesehatan & Kecantikan

Drama Beberes Rumah? Ini 4 Cara Atasi Sakit Pinggang Ibu

Hubungan

Gaya Parenting Orang Tua Erling Haaland: Mendidik Anak Menjadi Juara Tanpa Tekanan

Karier & Keuangan

Trik Mengatasi Tantangan di Kantor bagi Ibu Bekerja

Kesehatan & Kecantikan

KLB Campak 2026: Orang Dewasa dan Lansia Kini Disarankan Vaksinasi Campak

Hubungan

Tips untuk Ayah: Ini Cara Memotret Istri dan Anak yang Benar

Hubungan

Apa Itu Vasektomi? Antara Mitos dan Fakta Medis yang Perlu Anda Pahami

Hubungan

Ketemu Siapa Tahun Ini? Mengenal 7 Tipe Ibu yang Sering Muncul di Silaturahmi Lebaran

Karier & Keuangan

Ibu Rumah Tangga Kini Bisa Memiliki BPJS Ketenagakerjaan, Simak Alur Pendaftaran BPJS untuk Ibu Rumah Tangga!