Rangkaian bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Indonesia belakangan ini tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga jejak trauma yang mendalam, terutama bagi anak-anak. Berpindah secara tiba-tiba dari kenyamanan rumah menuju posko pengungsian yang padat, bising, dan serba terbatas adalah pengalaman yang bisa mengguncang psikis si Kecil. Sebagai orang tua, prioritas utama setelah memastikan keselamatan raga adalah menjaga kesehatan mental anak di tengah situasi krisis. Di sinilah P3K Emosi atau dukungan emosional awal menjadi krusial. Ini bukanlah terapi klinis yang rumit, melainkan jembatan emosional sederhana untuk mengembalikan rasa aman buah hati Anda saat dunia mereka terasa kacau.
Anak-anak jarang mengungkapkan rasa takutnya lewat kata-kata. Di area pengungsian yang riuh, trauma kerap muncul sebagai regresi perilaku: anak yang tiba-tiba kembali mengompol, menempel berlebihan (clingy), mudah meledak emosinya, atau justru menarik diri dan enggan berbicara. Mengerti bahwa ini adalah respons wajar atas situasi luar biasa membantu orang tua merespons dengan dekapan, bukan bentakan. Langkah P3K Emosi dimulai dari kepekaan kita membaca sinyal-sinyal tak terucap ini.







