Bagi anak-anak yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan, bencana ini hadir secara nyata lewat pancaindra. Udara yang biasanya sejuk mendadak beraroma sangit menusuk hidung, mata terasa perih saat melangkah keluar, dan pemandangan paling mencolok, kubah langit yang biasanya biru cerah berubah menjadi kuning temaram. Suasana siang hari tampak redup layaknya menjelang senja. Sementara bagi si Kecil yang tinggal jauh di kota lain yang aman, rasa cemas dan penasaran sering kali terpantik dari layar berita televisi atau gawai. Mereka heran menyaksikan siaran kabar yang menampilkan kota-kota diselimuti kabut tebal berwarna kuning kecokelatan, serta anak-anak sebaya mereka yang terpaksa memakai masker dan belajar dari rumah.
Menyaksikan langsung keanehan warna langit maupun menyimaknya dari tayangan berita sama-sama memicu tanda tanya besar di benak anak. Di balik kepulan asap pekat dan pemandangan ganjil tersebut, anak-anak perlu tahu apa yang sesungguhnya sedang menimpa lingkungan hidup mereka, tanpa harus ditutup-tutupi oleh dongeng yang memalsukan realitas. Menjelaskan fenomena ini menuntut kepekaan khusus, memberikan alasan yang masuk akal secara ilmiah tanpa menyulut kepanikan berlebihan, sembari menumbuhkan kejujuran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada bumi dan makhluk hidup di dalamnya. Berikut panduan merespons pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh si Kecil.










