Kanak-kanak

Cara Cerdas Melatih Anak Merespon Ejekan Teman

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 12 August 2026
Bacaan 4 menit

Mendengar buah hati pulang sekolah dengan wajah lesu lalu bercerita ia diejek temannya tentu membuat hati orang tua mencelos. Realitasnya, kita tidak akan selalu bisa mendampingi mereka 24 jam di sekolah maupun lingkungan bermain. Suatu hari nanti, suka atau tidak, akan ada kalimat-kalimat menyakitkan yang tak sengaja atau sengaja dilemparkan oleh teman sebayanya.

Naluri alami kita tentu ingin langsung pasang badan dan membela mereka. Namun, membentengi anak secara terus-menerus justru tidak melatih ketahanan mentalnya. Bekal terbaik yang bisa kita berikan adalah mengajarkan anak cara merespon perkataan tersebut secara tenang, tegas, dan percaya diri, menunjukkan bahwa ucapan orang lain tidak berkuasa atas harga dirinya.

Kalimat Menyakitkan yang Paling Sering Didengar Anak

  • Ejekan Fisik & Penampilan: "Sepatu kamu jelek banget!", "Hidung kamu pesek!"
  • Penolakan Sosial: "Aku gak mau main sama kamu!", "Gak ada yang mau sekelompok sama kamu."
  • Kritik Performa & Intelektual: "Kamu bodoh banget!", "Masa gitu aja gak bisa?"
  • Pelabelan Negatif & Manipulasi: "Dasar penakut!", "Kalau gak bagi makanan, kamu pelit!"
  • Ejekan Keluarga: Memanggil anak dengan nama orang tua.

16 Simulasi Respon: Latihan Peran (Role-Play) di Rumah

Bantu anak berlatih dengan gestur dasar: bahu tegap, pandangan mata lurus, dan nada suara datar tanpa emosi berlebih.

Simulasi 1: Diusir atau Disuruh Pergi

  • Situasi: Teman berkata, "Pergi sana!"
  • Respon: "Oke, aku kasih kamu ruang." (Lalu pergi dengan tenang).

Simulasi 2: Dikucilkan

  • Situasi: Teman berkata, "Gak ada yang suka sama kamu!"
  • Respon: "Itu gak benar. Aku punya orang-orang yang peduli sama aku (Mama dan Papa)." (Tatap mata lawan bicara dengan yakin).

Simulasi 3: Ejekan Intelektual

  • Situasi: Teman berkata, "Kamu bodoh banget!"
  • Respon: "Gak baik ngomong gitu. Aku masih belajar, dan itu wajar."

Simulasi 4: Ejekan Penampilan

  • Situasi: Teman berkata, "Sepatu kamu jelek banget!"
  • Respon: "Oh ya? Tapi aku suka kok." (Lalu kembali melanjutkan aktivitas tanpa beban).

Simulasi 5: Penolakan Diajak Main

  • Situasi: Teman berkata, "Aku lagi gak mau main sama kamu!"
  • Respon: "Oke, gak apa-apa. Aku main sama yang lain aja ya." (Berbalik mencari permainan atau teman lain).

Simulasi 6: Ejekan Berulang

  • Situasi: Teman berkata, "Kamu lambat banget, gak usah ikut main!"
  • Respon: "Aku gak suka kamu bicara seperti itu. Bicara yang sopan kalau mau main bareng." (Tatap mata lawan bicara).

Simulasi 7: Pelabelan Negatif

  • Situasi: Teman berkata, "Kamu kok penakut banget sih?"
  • Respon: "Memangnya kenapa kalau aku mau hati-hati?"

Simulasi 8: Kritik Kemampuan

  • Situasi: Teman berkata, "Nilai kamu jelek banget, gitu aja gak bisa!"
  • Respon: "Iya nih, nanti aku belajar lagi biar makin jago." (Senyum santai).

Simulasi 9: Provokasi Berlebihan

  • Situasi: Teman terus-menerus memprovokasi tanpa henti.
  • Respon: (Tatap mata lawan bicara selama 2 detik tanpa senyum, tarik napas tenang, balik badan lalu pergi).

Simulasi 10: Ejekan Fisik Konyol

  • Situasi: Teman berkata, "Dahi kamu lebar banget kayak lapangan!"
  • Respon: "Iya nih, biar makin lega buat mikir!" (Tertawa santai).

Simulasi 11: Bisik-Bisik & Pengucilan

  • Situasi: Teman berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah anak.
  • Respon: "Kalau ada yang mau disampaikan, bilang langsung ke aku aja ya."

Simulasi 12: Meremehkan Karya/Hobi

  • Situasi: Teman berkata, "Gambar kamu aneh banget bentuknya!"
  • Respon: "Gak apa-apa, yang penting aku senang buatnya." (Tetap melanjutkan gambarnya).

Simulasi 13: Pemaksaan & Pelabelan

  • Situasi: Teman berkata, "Kalau gak bagi bekalmu, kamu pelit!"
  • Respon: "Berbagi itu kalau mau, bukan dipaksa. Hari ini aku mau makan bekalku sendiri."

Simulasi 14: Ejekan Memanggil Nama Orang Tua

  • Situasi: Teman mengejek dengan memanggil anak menggunakan nama ayah/ibunya secara bernada meledek.
  • Respon: "Namaku [Nama Anak]. Tolong panggil pakai namaku sendiri, bukan nama orang tuaku."

Simulasi 15: Ancaman Ringan

  • Situasi: Teman berkata, "Awas ya kalau kamu bilang guru!"
  • Respon: "Kalau kamu terus ganggu, aku akan lapor supaya kita berdua sama-sama tenang." (Jika berlanjut, segera ajarkan anak melapor ke guru/orang dewasa terdekat).

Simulasi 16: Ejekan Barang Kepunyaan

  • Situasi: Teman berkata, "Kotak makanan kamu jelek/kuno banget!"
  • Respon: "Ini pilihan aku dan aku suka karakternya. Lagipula kita kan harusnya saling hargai, aku aja gak pernah ngejek barang-barang kamu." 

Ke depannya, mungkin akan tetap ada saja perkataan menyakitkan yang terlontar di lingkungan sekitar si Kecil. Namun, penting untuk membantu anak menyadari bahwa pertemanan yang terus-menerus diwarnai ejekan adalah bentuk unhealthy friendship. Tanamkan sejak dini bahwa ia memiliki hak penuh untuk memilih circle pertemanan yang membuatnya merasa dihargai, aman, dan diterima apa adanya.

Sebagai orang tua, kita memang tidak bisa menyaring setiap ucapan yang masuk ke telinga buah hati saat berada di luar rumah. Namun, kita selalu bisa memastikan bahwa ketika ia melangkah pulang, ada pelukan hangat dan ruang aman yang siap meyakinkannya bahwa ia begitu berharga. Hang in there, Parents! Melatih benteng emosional ini adalah perjalanan panjang, tetapi setiap percakapan hangat di rumah hari ini adalah bekal terbesarnya untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh kelak.

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Jangan Asal Beri Oseltamivir! Berikut Penjelasan IDAI!

Remaja

Harus Bagaimana Bila si Kecil Menjadi Pelaku Bullying?

Bayi

Kiat agar Anak dan Hewan Peliharaan Dapat Hidup Bersama dengan Harmonis

Kanak-kanak

Kenali Perbedaan Batuk Pilek Biasa dan Influenza A pada Anak

Remaja

Mengajarkan Anak Memahami Mindfulness yang Benar

Bayi

Kiat Menghadapi Tamu yang Berkunjung Setelah Anda Melahirkan

Bayi

Mitos vs Fakta Kontrasepsi yang Wajib Orang Tua Tahu

Balita

Panduan Siaga Abu Vulkanik untuk Orang Tua dengan Anak Berisiko Tinggi