Melahirkan adalah sebuah momen magis yang luar biasa, namun tidak bisa dimungkiri, proses ini juga menguras energi fisik dan emosional seorang wanita. Sering kali, begitu tangis bayi pecah di ruang bersalin, pusat perhatian seluruh dunia langsung bergeser 180 derajat ke si Kecil. Kamar tidur seketika dipenuhi kado untuk bayi, sementara sang ibu baru (new mom) yang baru saja bertaruh nyawa justru rentan "terabaikan" proses pemulihannya.
Padahal, dalam filosofi perawatan pascamelahirkan kuno, ada satu premis yang sangat bijak, yaitu jika ibunya sehat dan bahagia, maka bayinya pasti akan terurus dengan baik. Berangkat dari filosofi inilah, di dalam kebudayaan Tionghoa peranakan, ada sebuah tradisi pemulihan pascapersalinan yang sangat ketat bernama Guek Lai (atau Zuo Yue Zi), yang berarti "menjalani bulan nifas".
Menariknya, dalam tradisi ini, ada satu sosok sentral yang bertindak bagai "malaikat penjaga" bagi ibu dan bayi yang disebut Ai Guek Lai. Bagi kalangan ibu di Indonesia, sosok Ai Guek Lai yang terkenal paling telaten dan legendaris biasanya didatangkan langsung dari kota dengan akar tradisi Tionghoa yang kuat, seperti Medan atau Pontianak. Mari kita mengenal lebih dekat sosok mereka serta bagaimana konsep ini bermetamorfosis dalam budaya modern Indonesia.








