Kesehatan Mental

Mengenali Istilah Child Grooming dari Buku 'Broken Strings' Karya Aurelie Moeremans

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 14 January 2026
Bacaan 4 menit

Sebagai orang tua, salah satu naluri terdalam kita adalah ingin selalu menjaga anak-anak agar tetap aman dan bahagia. Namun, belakangan ini banyak dari kita yang merasa tersentuh sekaligus khawatir saat menyimak diskusi hangat di media sosial mengenai buku Broken Strings. Melalui karya yang jujur ini, aktris Aurelie Moeremans dengan berani membuka ruang bagi kita untuk belajar dari masa lalunya yang kelam, sebuah perjalanan tentang bagaimana seorang remaja bisa terjebak dalam lingkaran manipulasi oleh orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung.

Topik ini menjadi semakin emosional bagi para orang tua karena mengungkap fakta pahit tentang child grooming yang bisa berujung pada pernikahan di usia yang sangat muda. Seringkali, muncul pertanyaan penuh kebingungan di benak kita: "Kenapa korban tidak segera bercerita?" atau "Mengapa mereka tampak sulit untuk melepaskan diri?" Sebelum kita cepat menghakimi, mari kita mencoba mengerti dari kacamata yang lebih lembut dan ilmiah. Berikut adalah penjelasan mendalam melalui unggahan Instagram Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog Anak & Remaja, yang membantu kita memahami mekanisme otak dan batin seorang anak saat berada dalam situasi yang serba sulit tersebut.

image.alt

Child Grooming Bukan Kekerasan Langsung, Melainkan Manipulasi

Berbeda dengan kekerasan fisik yang mudah dikenali, grooming bekerja lewat manipulasi yang sangat halus. Pelaku biasanya datang sebagai sosok yang:

  • Peduli, selalu ada saat anak merasa kesepian atau sedih.
  • Mengerti, mengklaim hanya mereka yang benar-benar memahami potensi sang anak.
  • Menyelamatkan, seolah-olah menjadi pembela di tengah kesulitan atau konflik yang dihadapi anak.

Pada fase awal, korban tidak merasa sedang diserang, tapi merasa sangat butuh. Perhatian ini perlahan-lahan mengaburkan batasan antara mana yang normal dan mana yang salah, hingga korban merasa "aku butuh dia" untuk bertahan hidup.

Secara biologis, remaja usia 15–18 tahun memiliki prefrontal cortex yang belum matang sempurna. Bagian otak ini bertanggung jawab untuk menilai risiko, membuat keputusan jangka panjang, dan memiliki keberanian untuk berkata 'tidak' pada situasi bahaya yang terselubung.

  • Remaja memiliki dorongan emosi yang besar, namun kemampuan melindungi diri secara strategis masih terbatas.
  • Dalam kasus grooming, pelaku memanfaatkan ketidaktahuan ini untuk mengambil kendali penuh atas hidup sang anak.

Anastasia Satriyo yang juga berpraktik di Klinik Tumbuh Kembang menekankan bahwa, kondisi hidup seseorang memperkuat rasa tidak berdaya. Ada beberapa latar belakang yang membuat seorang remaja masuk ke dalam 'kondisi terjebak':

Pertama, anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu ketat atau otoriter cenderung memiliki pola 'patuh demi aman'. Karena minim ruang dialog, mereka terbiasa menyalahkan diri sendiri dan takut akan konsekuensi jika membantah. Ketika bertemu pelaku yang dominan, mereka memilih untuk menurut demi menghindari 'bahaya' yang lebih besar.

Kedua, riwayat pengalaman bullying membuat anak haus akan penerimaan. Saat pelaku 'memilih' mereka, otak remaja menganggapnya sebagai kesempatan kedua untuk merasa berharga. Perhatian pelaku terasa seperti pegangan hidup yang tidak boleh dilepaskan.

Ketiga, munculnya relasi kuasa yang timpang. Terutama, saat anak mulai masuk ke dunia hiburan sebagai artis pemula. Mereka belum punya kuasa, pengalaman, atau perlindungan, sehingga sepenuhnya bergantung pada figur dewasa (pelaku). Di fase ini, muncul ketakutan akan kehilangan karier dan kebingungan untuk membedakan mana relasi personal yang tulus dan mana eksploitasi.

Mengapa Korban Tidak Melawan?

Pertanyaan "Kenapa tidak melawan?" sebenarnya adalah pertanyaan dari otak usia dewasa yang saat ini sedang merasa aman. Bagi korban, mereka hidup dalam otak remaja yang sedang mengalami trauma dan ancaman nyata.

Dalam kondisi trauma, tubuh memiliki tiga respons biologis: Fight (Melawan), Flight (Kabur), dan Freeze (Membeku).

  • Banyak korban grooming masuk ke mode Freeze, pasrah, mati rasa, dan berpikir 'ikut saja supaya selamat'.
  • Ini bukan tanda ketidakberanian, melainkan reaksi biologis alami tubuh untuk bertahan hidup saat pilihan terasa tidak ada.

Melalui penjelasan dari Anastasia Satriyo, yang kebetulan juga seorang survivor kesehatan mental, kita diajak untuk memahami sebuah pesan penting, yaitu saat seorang anak terjebak, itu bukanlah karena mereka kurang berani, melainkan karena keterbatasan biologis otak remaja mereka yang sedang berjuang melawan manipulasi yang sangat halus. Kisah dalam Broken Strings bukan hadir untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memeluk kita semua agar lebih peka.

Tugas terbesar kita sebagai orang tua bukanlah menjadi pengawas yang kaku, melainkan menjadi pelabuhan pertama tempat anak merasa aman untuk pulang dan bercerita tanpa takut dihakimi. Mari kita bangun ruang dialog yang hangat di rumah, sehingga anak-anak kita tidak perlu mencari validasi atau sosok 'penyelamat' di luar sana. Karena pada akhirnya, cinta dan keterbukaan kitalah benteng terkuat bagi mereka.

Artikel Lainnya

Hubungan

Ketemu Siapa Tahun Ini? Mengenal 7 Tipe Ibu yang Sering Muncul di Silaturahmi Lebaran

Karier & Keuangan

Ibu Rumah Tangga Kini Bisa Memiliki BPJS Ketenagakerjaan, Simak Alur Pendaftaran BPJS untuk Ibu Rumah Tangga!

Hubungan

Rahasia Harmoni Keluarga: Mengintip Kecocokan Shio Antara Ayah, Ibu, dan si Kecil

Kesehatan & Kecantikan

Tas Siaga Bencana untuk Keluarga Ini Daftar Wajib yang Harus Anda Siapkan Sejak Sekarang

Hubungan

Di Balik Ramainya Drama Perceraian, Ini Cara Membangun Co-Parenting yang Sehat

Perencana Pendidikan

Tanyakan 5 Hal Ini Saat Mengunjungi Calon Sekolah Anak

Hubungan

Tips Parenting: Cara Membantu Anak yang Punya Saudara Berkebutuhan Khusus agar Tetap Percaya Diri

Kesehatan Mental

Indonesia Butuh Pemimpin Hebat! Mulai dari Cara Anda Mendidik Anak di Rumah!