Akhir akhir ini drama perceraian para publik figur kembali menjadi pusat perhatian. Mulai dari aktor, penyanyi, hingga influencer, satu per satu kisah perpisahan mereka memenuhi pemberitaan dan media sosial. Fenomena ini bukan hanya memicu rasa ingin tahu publik tetapi juga membuat banyak orang tua bertanya-tanya tentang bagaimana perceraian sebenarnya memengaruhi kondisi emosional anak. Di balik hiruk pikuk drama perceraian tersebut ada satu hal yang seharusnya tidak luput dari sorotan yaitu kesejahteraan anak serta pentingnya co-parenting untuk menjaga stabilitas emosi mereka.
Banyak pasangan termasuk para publik figur memilih tetap bekerja sama demi anak meski hubungan sebagai pasangan telah berakhir. Co-parenting menjadi jembatan agar anak tetap merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya meskipun keluarga tidak lagi berada dalam satu rumah.
Dalam interview yang dilakukan dengan Ainun Fahma Yusiarida, M.Psi., Psikolog Klinis dari Ibunda.id, menjelaskan bahwa, perceraian merupakan perubahan besar dalam hidup anak sehingga berpotensi mengakibatkan psikologis anak terguncang. Hal ini dapat menyebabkan anak merasakan berbagai macam emosi seperti bingung, takut, marah, atau kecewa yang bercampur aduk dan mungkin tidak dapat diuraikan oleh sang anak. Bahkan ada juga kasus dimana sang anak tidak merasakan emosi apa-apa (numb) karena terlalu kaget akan kenyataan bahwa orang tuanya telah berpisah.









