Hubungan

Di Balik Ramainya Drama Perceraian, Ini Cara Membangun Co-Parenting yang Sehat

Ditulis oleh: Azmi Karima Diterbitkan pada 24 November 2025
Review olehChristina Holmes
Bacaan 6 menit

Akhir akhir ini drama perceraian para publik figur kembali menjadi pusat perhatian. Mulai dari aktor, penyanyi, hingga influencer, satu per satu kisah perpisahan mereka memenuhi pemberitaan dan media sosial. Fenomena ini bukan hanya memicu rasa ingin tahu publik tetapi juga membuat banyak orang tua bertanya-tanya tentang bagaimana perceraian sebenarnya memengaruhi kondisi emosional anak. Di balik hiruk pikuk drama perceraian tersebut ada satu hal yang seharusnya tidak luput dari sorotan yaitu kesejahteraan anak serta pentingnya co-parenting untuk menjaga stabilitas emosi mereka.

Banyak pasangan termasuk para publik figur memilih tetap bekerja sama demi anak meski hubungan sebagai pasangan telah berakhir. Co-parenting menjadi jembatan agar anak tetap merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya meskipun keluarga tidak lagi berada dalam satu rumah.

Dalam interview yang dilakukan dengan Ainun Fahma Yusiarida, M.Psi., Psikolog Klinis dari Ibunda.id, menjelaskan bahwa, perceraian merupakan perubahan besar dalam hidup anak sehingga berpotensi mengakibatkan psikologis anak terguncang. Hal ini dapat menyebabkan anak merasakan berbagai macam emosi seperti bingung, takut, marah, atau kecewa yang bercampur aduk dan mungkin tidak dapat diuraikan oleh sang anak. Bahkan ada juga kasus dimana sang anak tidak merasakan emosi apa-apa (numb) karena terlalu kaget akan kenyataan bahwa orang tuanya telah berpisah.

Dampak Perceraian Pada Anak

Untuk anak usia dini yang belum pandai mengenai emosinya, tentu saja perceraian sangat membingungkan bagi mereka. Mereka merasakan perbedaan dari kedua orang tuanya namun belum mampu mengungkapkannya sehingga anak pun akan kesulitan dalam mengendalikan emosinya.

Ketidakmampuan anak dalam meregulasi emosi akan berdampak pada perubahan perilaku anak seperti menjadi mudah tantrum atau jadi pemurung. Jika perceraian orang tua dialami oleh anak yang sudah bersekolah, terkadang dapat mengakibatkan anak tidak semangat belajar, tidak mau bergaul, atau bahkan mogok sekolah.

Perubahan perilaku pada anak juga dapat disebabkan oleh ketidakstabilan emosi orang tua saat melewati perceraian. Hal ini mengakibatkan perubahan respons orang tua saat membersamai anak seperti ketika makan atau bermain. Selain itu, adanya perubahan rutinitas pada keseharian anak pun sangat berpengaruh pada kondisi emosional anak.

Langkah Awal Memulihkan Kondisi Emosi Anak

Sebaik apapun proses perceraian yang terjadi tetap saja berdampak buruk pada anak, dampak tersebut dapat diminimalisir dengan cara orang tua teta hadir secara utuh saat mendidik anak. Salah satunya ketika orang tua memberitahukan perceraian kepada anak, akan lebih baik jika dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Orang tua dapat memberikan penjelasan sesuai usia anak, pastikan bahwa meskipun orang tua tidak tinggal bersama lagi anak tetap dapat merasakan kasih sayang secara utuh. Meskipun orang tua tidak lagi sebagai suami-istri, peran sebagai orang tua tetap sama.

Langkah awal yang harus dilakukan orang tua adalah memvalidasi emosi yang dirasakan anak. Anak mungkin akan melalui fase duka yang cukup lama, tetapi orang tua perlu selalu mendampingi dan menerima setiap perasaannya. Saat anak sudah siap, orang tua dapat membantu anak meregulasi emosinya. Hindari memberikan memberikan terlalu banyak nasihat, karena yang paling dibutuhkan anak adalah penerimaan.

image.alt

Pola Asuh Co-Parenting

Untuk memastikan perkembangan anak tidak terganggu karena perceraian, orang tua dapat mengadopsi pola asuh co-parenting, dimana kedua orang tua berkomitmen untuk tetap bertanggung jawab menjalankan perannya sebagai ayah dan ibu bagi sang anak.

Kunci utama dari co-parenting adalah komunikasi. Orang tua perlu menyadari bahwa komunikasi yang efektif diperlukan agar dapat meminimalkan konflik pengasuhan, menciptakan konsistensi pola asuh, dan memastikan anak merasa aman dengan kedua orang tuanya.

image.alt

Tips Melakukan Co-Parenting

Membuat kesepakatan dalam pengasuhan

Kesepakatan yang jelas terkait pola pengasuhan sangat diperlukan, seperti tanggung jawab masing-masing orang tua, pembagian jadwal saat mengasuh, rencana pengasuhan ke depannya, kondisi masing-masing, hingga kesepakatan jika orang tua memiliki pasangan baru.

Dalam kondisi yang tidak ideal seperti perceraian terkadang kesepakatan yang dibuat tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua. Namun percayalah bahwa tiap orang tua pasti akan mengusahakan yang terbaik bagi sang anak.

Menentukan Batasan Intervensi

Komunikasi yang cukup intens dengan mantan pasangan pasti dilakukan saat co-parenting. Namun perlu diingat bahwa peran yang dilakukan adalah sebagai orang tua bukan lagi sebagai suami istri. Sehingga perlu adanya batasan hal apa saja yang dapat diintervensi oleh mantan pasangan.

Mengutamakan Kepentingan Anak

Ketika terjadi perbedaan pendapat antara orang tua, perlu disikapi dengan open-minded dan mencari jalan tengah dengan mengutamakan kebaikan sang anak.

Fleksibel Saat Co-Parenting

Orang tua perlu bersikap fleksibel jika mantan pasangan tidak melakukan kesepakatan yang telah dibuat selama hal itu masih dalam batas kewajaran. Fleksibilitas diperlukan untuk mengurangi potensi konflik yang ada sehingga tidak berpengaruh pada kondisi emosional anak.

Bertanggung Jawab atas Pemulihan Diri Sendiri

Saat melalui proses perceraian, orang tua juga dapat mengalami guncangan emosional. Sehingga orang tua pun perlu memulihkan dirinya, meregulasi emosi yang dirasakan, dan bangkit dari trauma. Orang tua yang memiliki stabilitas emosi tentu dapat mengasuh anak dengan lebih baik. 

Hal yang Dihindari Saat Co-Parenting

Menjadikan anak sebagai penghubung antar orang tua

Orang tua sebaiknya tidak menyampaikan pesan kepada mantan pasangan melalui anak, karena hal ini dapat mengakibatkan beban emosional dan kebingungan pada anak. Komunikasi antar orang dewasa dapat dilakukan secara langsung tanpa perantara anak. Selain itu, orang tua perlu membuat batasan mengenai masalah apa saja yang perlu diketahui oleh anak.

Membicarakan keburukan mantan pasangan di depan anak

Jika terjadi perbedaan pendapat atau konflik antara orang tua, hindari menyampaikannya di depan anak karena hal itu berpotensi membuka keburukan mantan pasangan kepada anak. Selain menyebabkan kebingungan, anak juga dapat merasakan harus memihak salah satu orang tua. Sebaiknya orang tua menyimpan dulu perbedaan yang ada dan membahasnya di lain waktu tanpa kehadiran anak, agar anak tetap merasa aman dan dapat menghormati kedua orang tuanya secara seimbang.

Co-parenting dapat menjadi jalan tengah bagi orang tua untuk memastikan anak tetap tumbuh dan berkembang dengan baik meski terjadi perceraian. Namun jika co-parenting tidak memungkinkan karena salah satu orang tua meninggalkan keluarga, beri pengertian kepada anak bahwa orang tua tunggal pun akan berusaha menjalankan peran kedua orang tua.

Ketika perceraian terjadi karena kekerasan terhadap anak, sebaiknya co-parenting ditunda terlebih dahulu demi keselamatannya. Namun, jika kekerasan terjadi pada pasangan, usahakan agar anak tetap dapat bertemu kedua orang tua dengan pengaturan yang aman, seperti bertemu di tempat umum atau didampingi anggota keluarga lain. Hal ini tentu saja membutuhkan kebesaran hati orang tua yang menjadi korban kekerasan agar anak tetap merasakan kehadiran dan kasih sayang dari kedua orang tua.

Semoga para orang tua mampu bekerja sama melaksanakan co-parenting, menempatkan anak sebagai prioritas utama dan mendampingi anak dengan penuh kasih sayang agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang aman, bahagia, dan percaya diri.

Detail isi artikel

  • Dampak Perceraian Pada Anak
  • Langkah Awal Memulihkan Kondisi Emosi Anak
  • Pola Asuh Co-Parenting
  • Tips Melakukan Co-Parenting
  • Hal yang Dihindari Saat Co-Parenting

Artikel Terkait

Tas Siaga Bencana untuk Keluarga Ini Daftar Wajib yang Harus Anda Siapkan Sejak Sekarang

Tanyakan 5 Hal Ini Saat Mengunjungi Calon Sekolah Anak

Tips Parenting: Cara Membantu Anak yang Punya Saudara Berkebutuhan Khusus agar Tetap Percaya Diri

Artikel Lainnya

Kesehatan & Kecantikan

Tas Siaga Bencana untuk Keluarga Ini Daftar Wajib yang Harus Anda Siapkan Sejak Sekarang

Perencana Pendidikan

Tanyakan 5 Hal Ini Saat Mengunjungi Calon Sekolah Anak

Hubungan

Tips Parenting: Cara Membantu Anak yang Punya Saudara Berkebutuhan Khusus agar Tetap Percaya Diri

Kesehatan Mental

Indonesia Butuh Pemimpin Hebat! Mulai dari Cara Anda Mendidik Anak di Rumah!

Hubungan

Begini Cara Menjawab Pertanyaan Anak: Apa Itu Demonstrasi?

Kesehatan Mental

Orang Tua Wajib Tahu: Bahaya Roblox dan Cara Menghindarinya

Kesehatan Mental

Ngobrol bukan Ngomel: Seni Berbicara dengan Anak Remaja Tanpa Bikin Mereka Nutup Diri

Karier & Keuangan

Menjadi Ayah Diplomat: Perjalanan Albusyra Basnur Membangun Kedekatan di Tengah Tugas Negara