Kanak-kanak

Jadwal dan Jenis Vaksin BIAS: Panduan Wajib Orang Tua Murid SD

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 26 October 2026
Bacaan 3 menit

Sebagian besar orang tua merasa tugas imunisasi telah tuntas begitu anak melewati usia dua tahun. Buku catatan kesehatan anak tersimpan rapi di lemari, dan fokus pengasuhan beralih sepenuhnya pada nutrisi serta pendidikan formal. Padahal, memasuki gerbang sekolah dasar, anak mulai terpapar lingkungan sosial yang jauh lebih luas dengan dinamika penularan penyakit yang lebih kompleks.

Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan bahwa perlindungan kesehatan anak membutuhkan imunisasi lanjutan. Melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang terintegrasi secara nasional, anak-anak usia sekolah dasar mendapatkan dosis penguat untuk memperpanjang durasi proteksi terhadap berbagai infeksi berbahaya.

Mengapa Anak Usia Sekolah Tetap Memerlukan Imunisasi?

Antibodi yang terbentuk dari imunisasi dasar pada masa bayi tidak selalu bertahan seumur hidup. Sejumlah riset pediatri dan publikasi medis dalam jurnal The Lancet Child & Adolescent Health menunjukkan adanya fenomena penurunan kadar antibodi secara bertahap beberapa tahun pascavaksinasi.

Kekebalan tubuh terhadap difteri dan tetanus, misalnya, cenderung menurun signifikan setelah anak berusia 5 hingga 7 tahun. Tanpa pemberian dosis penguat, anak kembali rentan terhadap komplikasi serius akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae maupun Clostridium tetani.

Imunisasi pada usia sekolah juga menjadi momentum emas untuk pencegahan penyakit jangka panjang. Pemberian vaksin Human Papillomavirus pada rentang usia 9 hingga 14 tahun terbukti merangsang titer antibodi dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan bila diberikan pada usia dewasa, memberikan efektivitas pencegahan kanker serviks yang jauh lebih optimal.

Jadwal dan Jenis Vaksin dalam Program BIAS

Berdasarkan rekomendasi IDAI dan ketetapan Kementerian Kesehatan, imunisasi anak sekolah diselenggarakan dua kali setiap tahun, yaitu pada bulan Agustus dan November.

image.alt

Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping sering kali menjadi alasan keraguan pemberian vaksin. IDAI menekankan bahwa reaksi setelah imunisasi umumnya bersifat ringan, singkat, dan merupakan respons alami tubuh dalam membangun kekebalan.

Langkah pendampingan yang dapat dilakukan orang tua sebelum dan sesudah jadwal imunisasi:

  • Edukasi dan Beri Rasa Nyaman: Jelaskan kepada anak bahwa suntikan vaksin berfungsi sebagai tameng pelindung tubuh agar ia bisa bermain dan belajar tanpa takut sakit berat.
  • Cukupi Nutrisi dan Istirahat: Pastikan anak sarapan bergizi seimbang dan terhidrasi dengan baik pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah.
  • Penanganan Demam dan Nyeri Lokal: Jika timbul demam ringan atau area bekas suntikan terasa nyeri dan bengkak, kompres area tersebut dengan air sejuk serta berikan obat penurun panas sesuai anjuran tenaga medis.
  • Lapor Segera Bila Perlu: Segera konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat jika anak mengalami reaksi yang tidak biasa, seperti demam tinggi yang tidak mereda atau reaksi alergi hebat.

Pemberian izin dan partisipasi aktif orang tua dalam program imunisasi sekolah merupakan wujud tanggung jawab kesehatan yang paling mendasar. Melalui kekebalan kelompok yang solid di lingkungan sekolah, kita tidak hanya membentengi anak kandung kita sendiri, tetapi juga melindungi teman-teman mereka yang memiliki kondisi medis khusus dan belum dapat menerima vaksinasi.

Detail isi artikel

  • Mengapa Anak Usia Sekolah Tetap Memerlukan Imunisasi?
  • Jadwal dan Jenis Vaksin dalam Program BIAS

Artikel Terkait

Amankah Mainan Squishy untuk Anak?

Trik Toilet Training Jadi Permainan Seru Lewat Sistem Reward

Anak Pulang Sekolah Bicara Kasar? Jangan Langsung Dimarahi!

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Amankah Mainan Squishy untuk Anak?

Balita

Trik Toilet Training Jadi Permainan Seru Lewat Sistem Reward

Remaja

Anak Pulang Sekolah Bicara Kasar? Jangan Langsung Dimarahi!

Kanak-kanak

Jangan Asal Beri Oseltamivir! Berikut Penjelasan IDAI!

Remaja

Harus Bagaimana Bila si Kecil Menjadi Pelaku Bullying?

Bayi

Kiat agar Anak dan Hewan Peliharaan Dapat Hidup Bersama dengan Harmonis

Kanak-kanak

Kenali Perbedaan Batuk Pilek Biasa dan Influenza A pada Anak

Remaja

Mengajarkan Anak Memahami Mindfulness yang Benar