Momen itu akhirnya tiba. Anda sedang asyik menyetir atau menyiapkan makan malam, lalu tiba-tiba dari mulut mungil si Kecil meluncur sebuah kata kasar atau bad words yang bahkan tidak pernah Anda ucapkan di rumah. Sontak, jantung rasanya berhenti berdetak. Refleks pertama orang tua biasanya langsung panik dan bereaksi keras dengan berkata, "Eh! Nggak boleh ngomong begitu!" atau "Kamu belajar dari siapa?". Apalagi, sering kali muncul ketakutan di benak Anda, "Jangan-jangan ini nanti jadi kebiasaan?". Namun, tahan dulu emosi Anda! Menurut Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog, selain fokus menghentikan ucapannya, orang tua perlu memahami terlebih dahulu mengapa kata tersebut terasa sangat menarik bagi anak.
Anak Pulang Sekolah Bicara Kasar? Jangan Langsung Dimarahi!
Mengapa Anak Suka Meniru Bad Words?
Kita memang tidak mungkin bisa memastikan anak terisolasi sepenuhnya dari mendengar bad words. Semakin mereka besar, mereka pasti akan mendengarnya dari teman sebaya, sekolah, game, atau lingkungan sekitar.
Dalam edukasinya, Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog memaparkan bahwa berdasarkan Social Learning Theory yang dicetuskan oleh Albert Bandura, anak-anak belajar banyak hal dengan mengamati dan meniru perilaku orang lain, termasuk teman sebayanya.
Khususnya pada usia 4–6 tahun, bad words menjadi sesuatu yang menarik karena terdengar berbeda, membuat teman tertawa, atau memancing reaksi besar dari orang dewasa. Pada fase ini, anak bahkan belum sepenuhnya memahami artinya. Yang tertangkap di benak mereka hanyalah, "Aku menemukan kata yang menghasilkan reaksi!" atau "Kalau aku bilang ini, semua orang langsung bereaksi". Oleh karena itu, cara Anda merespons ikut menentukan seberapa menarik kata tersebut untuk diulang oleh anak.
Sebagaimana diungkapkan juga oleh pakar psikologi anak Dr. Dan Siegel, "Connect before you redirect." (Bangun koneksi sebelum Anda mengarahkan). Jika Anda langsung meledak dalam amarah, anak justru kehilangan momen untuk belajar regulasi diri.
Pritta Tyas mengimbau orang tua untuk menghindari respons yang justru menutup kesempatan anak untuk belajar:
- Melabeli Anak: Hindari ucapan seperti "Kok ngomongnya jelek banget sih?" atau "Kamu jadi anak kasar sekarang". Ingatlah bahwa perilakunya yang perlu dikoreksi, bukan identitas anak.
- Hanya Melarang Tanpa Alasan: Hindari sikap otoriter dengan bilang "Pokoknya kata itu nggak boleh!". Anak mungkin berhenti mengucapkannya di depan Anda, tetapi mereka belum belajar memahami arti, dampak, dan cara memilih kata yang lebih tepat.
Sebagai gantinya, Pritta Tyas menyarankan orang tua untuk menggunakan pendekatan yang Kind (ramah) sekaligus Firm (tegas):
1. KIND (Tetap Penasaran dan Tidak Mempermalukan). Jangan langsung menghakimi. Anda bisa memulainya dengan bertanya secara santai, seperti misalnya, "Kamu tahu artinya nggak?" atau "Biasanya teman-teman menggunakan kata itu kapan?"
2. FIRM (Tetap Jelas dengan Batasan/Boundaries). Berikan batasan yang jelas mengenai nilai-nilai di keluarga Anda. Seperti contoh, "Di keluarga kita, kita nggak menggunakan kata itu untuk merendahkan atau menyakiti orang lain". Bersikap kind bukan berarti membiarkan perilaku buruk, dan firm bukan berarti harus bereaksi dengan keras.
3. Berikan Alternatif Kata. Bantu anak menyalurkan emosinya dengan kosakata yang lebih tepat misalnya, "Kalau kamu lagi kesal, kamu boleh bilang 'Aku kesel banget', tanpa menggunakan kata yang menyakiti."
Pada akhirnya, Pritta Tyas menekankan bahwa tujuan utama yang ingin dibangun secara perlahan adalah kemampuan anak untuk berpikir:
- "Aku tahu kata ini."
- "Aku paham arti dan dampaknya."
- "Dan aku bisa memilih apakah aku mau menggunakannya."
Seiring bertambahnya usia anak, kita tentu berharap kontrol diri tersebut perlahan berpindah. Bukan lagi sekadar takut karena "Pokoknya, Mama/Papa bilang nggak boleh", melainkan kesadaran internal yang berbunyi, "Aku memilih untuk nggak melakukannya". Jadikan momen ini sebagai kelas kehidupan untuk mendampingi anak tumbuh menjadi pribadi yang bijak berliterasi kata.
Detail isi artikel
- Mengapa Anak Suka Meniru Bad Words?
Artikel Lainnya

Kanak-kanak
Jangan Asal Beri Oseltamivir! Berikut Penjelasan IDAI!

Remaja
Harus Bagaimana Bila si Kecil Menjadi Pelaku Bullying?

Bayi
Kiat agar Anak dan Hewan Peliharaan Dapat Hidup Bersama dengan Harmonis

Kanak-kanak
Kenali Perbedaan Batuk Pilek Biasa dan Influenza A pada Anak

Remaja
Mengajarkan Anak Memahami Mindfulness yang Benar

Bayi
Kiat Menghadapi Tamu yang Berkunjung Setelah Anda Melahirkan

Bayi
Mitos vs Fakta Kontrasepsi yang Wajib Orang Tua Tahu

Balita
Panduan Siaga Abu Vulkanik untuk Orang Tua dengan Anak Berisiko Tinggi