Bagi orang dewasa, RSV mungkin hanya terasa seperti flu ringan. Namun, bagi bayi yang baru lahir, ceritanya jauh berbeda. RSV adalah penyebab nomor satu infeksi paru-paru berat, seperti pneumonia dan bronkiolitis pada bayi di bawah usia satu tahun.
Karena saluran napas bayi masih sangat sempit dan sistem imun mereka belum matang, infeksi RSV sering kali menyebabkan sesak napas hebat yang membuat bayi harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Inilah mengapa perlindungan sejak dini menjadi sangat mendesak.
Vaksin RSV untuk ibu hamil bekerja dengan memicu tubuh ibu untuk memproduksi antibodi dalam jumlah besar. Antibodi atau "pasukan pelindung" ini kemudian dialirkan melalui plasenta langsung ke janin. Hasilnya, saat bayi lahir ke dunia, mereka sudah memiliki bekal sistem imun yang siap melawan virus RSV. Ini adalah masa krusial (Golden Period) karena bayi biasanya belum diizinkan menerima vaksin RSV secara mandiri hingga usia mereka lebih besar. Berdasarkan studi global bertajuk MATISSE Trial, pemberian vaksin RSV pada ibu hamil terbukti 81,8% efektif mencegah infeksi saluran napas bawah yang parah pada bayi dalam tiga bulan pertama setelah kelahiran. Perlindungan ini tetap kuat hingga bayi berusia enam bulan. Selain itu, lembaga seperti FDA dan CDC telah menyetujui penggunaan vaksin RSV maternal (seperti merk Abrysvo) karena manfaatnya yang jauh lebih besar dibandingkan risiko gejala ringan pasca-suntik seperti nyeri otot atau kelelahan.
Idealnya, vaksinasi bisa diberikan pada periodewaktu emas agar transfer antibodi dari ibu ke janin berjalan maksimal, yaitu pada usia kehamilan 32 hingga 36 minggu. Cukup satu kali suntikan di trimester ketiga untuk memberikan perlindungan jangka panjang bagi si Kecil di awal kehidupannya.