Kanak-kanak

Pintar Saja Gak Cukup! 'Skill' Ini yang Justru Dibutuhkan Anak!

Ditulis oleh: Christina Holmes Diterbitkan pada 27 July 2026
Bacaan 6 menit

Rasanya tidak ada hal yang lebih menghancurkan hati selain melihat seorang anak kecil harus kehilangan sosok pelindung utamanya secara mendadak. Belum lama ini, hati kita ikut tersayat mendengar rintihan tangis seorang anak sekolah dasar di Tabanan, Bali. Ia meratapi kepergian sang ayah yang berpulang akibat aksi emosional sekelompok orang. Dalam sekejap mata, tiga buah hati harus rela kehilangan dekapan hangat ayah mereka untuk selama-lamanya.

Tragedi ini bukan sekadar kabar duka yang numpang lewat di lini masa kita. Peristiwa memilukan ini adalah sebuah teguran keras yang membuat kita merenung, Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia orang dewasa saat ini? Mengapa amarah bisa begitu mudah mengalahkan kemanusiaan, hingga kita lupa bahwa di balik setiap konflik, ada anak-anak yang masa depannya ikut hancur dan trauma yang membekas selamanya?

Di sinilah kita, sebagai orang tua, kembali diingatkan pada satu "PR" terbesar dalam mendidik anak. Dunia hari ini yang kadang terasa semakin keras, reaktif, dan mudah menghakimi, ternyata sangat membutuhkan satu hal yang perlahan mulai luntur, yaitu empati.

Banyak orang tua khawatir anak mereka tertinggal secara akademis di era kecanggihan teknologi. Padahal, berdasarkan data dan riset dari The Future Jobs Report oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), keterampilan sosial seperti empati, kecerdasan emosional, dan kepedulian antarmanusia adalah keahlian mendasar yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) maupun mesin.

Empati bukan sekadar kebaikan sikap, melainkan fondasi karakter:

  • Mencegah Perundungan: Anak yang mampu merasakan luka orang lain jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi pelaku kekerasan atau pengejek. Ketika anak terbiasa dilatih empati sejak kecil, mereka belajar untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Anak yang berempati akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bisa mengendalikan emosi saat marah, karena otak mereka terbiasa bertanya, "Bagaimana jika aku yang ada di posisi dia?" atau "Bagaimana perasaan keluarganya kalau aku menyakitinya?" Empati adalah rem alami yang mencegah tindakan gegabah yang merugikan orang lain.
  • Membentuk Keberanian: Anak berempati tidak akan diam saat melihat ketidakadilan. Mereka lebih berani berdiri dan membela yang lemah. Tindakan main hakim sendiri sering kali terjadi karena hilangnya penghargaan terhadap nilai kemanusiaan. Dengan mengajarkan anak untuk peduli sejak dini, mulai dari hal sederhana seperti berbagi mainan, menolong teman yang jatuh, atau menyayangi hewan, kita sedang menanamkan benih bahwa setiap nyawa itu berharga dan pantas diperlakukan dengan welas asih, terlepas dari apa pun kesalahannya.
  • Membangun Hubungan Sehat: Anak-anak yang melihat atau menjadi korban dari kekerasan orang dewasa sangat rentan membawa luka itu hingga mereka dewasa. Dengan membekali anak-anak kita empati, kita sedang membantu memutus rantai kekerasan. Kita sedang mencetak generasi yang lebih memilih dialog ketimbang otot, dan lebih mengutamakan pemulihan daripada penghakiman.
image.alt

7 Langkah Sederhana Melatih Empati pada Anak

Menumbuhkan empati tidak bisa dilakukan hanya lewat ceramah di meja makan. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Anda bisa memulainya melalui pembiasaan kecil dalam keseharian:

Membantu Tanpa Diminta. Ajarkan anak untuk melatih kesadaran diri terhadap lingkungan sekitar.

  • Praktik: Dorong anak untuk mengambilkan minum saat melihat ibu atau ayahnya lelah, membukakan pintu untuk orang yang membawa barang berat, atau merapikan mainan tanpa perlu disuruh.

Tidak Menertawakan Kesalahan Orang Lain. Saat teman atau saudaranya melakukan kesalahan, ingatkan anak bahwa setiap manusia pernah gagal.

  • Praktik: Bimbing anak untuk tidak mengejek kawan yang jatuh atau salah menjawab pertanyaan di kelas. Ubah ejekan menjadi kalimat pembesar hati, "Tidak apa-apa, besok bisa dicoba lagi."

Menghargai Perbedaan. Dunia ini diisi oleh orang-orang dengan latar belakang, kemampuan, dan kondisi ekonomi yang beragam.

  • Praktik: Latih anak untuk tidak memandang sebelah mata teman yang memiliki fisik, keyakinan, atau kondisi finansial yang berbeda. Bantu mereka memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Empati bukan sekadar teori di kepala, melainkan otot emosi yang harus dilatih lewat tindakan nyata. Pengalaman langsung dalam menolong atau berbagi akan mengendap jadi memori kebaikan di hati anak.

Bersyukur Tanpa Merendahkan Orang Lain. Mengajarkan anak untuk bersyukur atas apa yang dimiliki adalah hal baik, tetapi pastikan rasa syukur itu tidak berubah menjadi rasa superioritas.

  • Praktik: Daripada mengatakan, "Lihat tuh, kamu masih mending daripada dia," ubah kalimatnya menjadi, "Kita sangat beruntung hari ini masih bisa makan enak. Yuk, kita bagikan sedikit rezeki ini untuk yang membutuhkan."

Bantu Anak Mengenali dan Menamai Emosi Sendiri. Sebelum bisa memahami perasaan orang lain, anak perlu paham dulu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Ketika anak mengerti nama dari emosi yang dirasakannya, ia akan lebih mudah mengenali dan memaklumi emosi yang sama pada orang lain.

  • Praktik: Daripada langsung ikut tersulut emosi anak, coba untuk ajak berbicara dengan santai, seperti "Ibu tahu kamu lagi marah banget sama Adik, dan merasa marah itu wajar kok. Tapi, memukul itu tetap tidak boleh ya, Kak." atau "Kamu kelihatan lagi kecewa banget ya karena kita batal pergi ke taman hari ini?" Anak yang merasa perasaannya dihargai dan didengar akan tumbuh menjadi pribadi yang mau mendengarkan orang lain. Memvalidasi emosi bukan berarti membenarkan perilaku buruk, melainkan memberikan ruang aman agar anak merasa dimengerti dulu sebelum diberikan dorongan perbaikan.

Latih Perspective-Taking Saat Terjadi Konflik. Ketika anak berselisih paham, seperti berebut mainan dengan saudara atau temannya, hindari langsung menghakimi. Gunakan momen tersebut sebagai ajang latihan untuk membayangkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman yang dialami orang lain.

  • Praktik: "Gimana rasanya kalau mainan yang lagi kamu suka diambil tiba-tiba tanpa izin? Bikin kesal, kan? Nah, itu juga yang dirasakan temanmu tadi pas mainannya kamu ambil."

Jadilah Teladan (Role Model) dalam Berempati Sehari-hari. Anak adalah peniru ulung. Cara terbaik menanamkan empati adalah dengan memperlihatkan secara langsung bagaimana kita sebagai orang tua merespons dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

  • Praktik: Selalu mengucapkan terima kasih yang tulus kepada kurir paket atau pelayan restoran, menyapa tetangga dengan ramah, serta tidak membicarakan keburukan orang lain di depan anak.

Mengajarkan empati memang memerlukan kesabaran ekstra. Di dunia yang makin bising dan penuh penghakiman, menghadiahkan anak sebuah hati yang lembut dan mau memahami adalah warisan terindah yang bisa Anda berikan. Tugas kita sebagai orang tua bukan sekadar membesarkan anak-anak yang sukses secara materi dan akademik, melainkan membesarkan manusia yang tetap memiliki nurani saat melihat penderitaan sesamanya.

Seorang penulis buku dan pakar empati, Dr. Brené Brown, pernah mengingatkan, "Empathy has no script. It’s simply listening, holding space, withholding judgment, connecting emotionally, and communicating that healing message of 'You’re not alone.'" ("Empati tidak memiliki naskah. Empati sekadar mendengarkan, memberi ruang, menahan diri dari menghakimi, terhubung secara emosional, dan menyampaikan pesan yang menyembuhkan bahwa 'Anda tidak sendirian.'").

Inti dari empati adalah keberanian untuk menahan diri dari menghakimi. Kita memang tidak bisa mengontrol seberapa kerasnya dunia luar. Namun, Anda dan saya punya kendali penuh atas bagaimana anak merespons dunia tersebut. Kini, pertanyaannya berpulang kepada kita,

Apakah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang ikut menghakimi? Atau, memilih untuk memahami?

Artikel Lainnya

Kanak-kanak

Tubuh Anak Lebih Pendek dari Teman Seusianya? Kenali Growth Hormone Deficiency dan Pola Tumbuh Kembang Anak

Kanak-kanak

Tips Hari Pertama Sekolah Anak: Panduan Bebas Drama untuk Orang Tua

Remaja

Bukan "Belajar Apa Tadi?", Ini 9 Pertanyaan yang Bikin Anak Mau Cerita Sepulang Sekolah

Kanak-kanak

Bukan Cuma Genetik! Intip Menu Harian Erling Haaland agar Anak Tumbuh Tinggi Maksimal

Pra-sekolah

Hari Pertama Sekolah Tanpa Drama: Trik Psikologis Populer yang Wajib Orang Tua Tahu!

Balita

Jangan Asal Pilih! Panduan Lengkap Jenis Kalsium untuk Tumbuh Kembang Anak!

Kanak-kanak

Si Kecil Mulai Tahu Istilah Pacaran? Jangan Panik! Simak Tips untuk Meresponsnya!

Kanak-kanak

Panduan Lengkap Persiapan PPDB 2026: Syarat Masuk Sekolah dan Panduan Membuat KIA