Menumbuhkan empati tidak bisa dilakukan hanya lewat ceramah di meja makan. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Anda bisa memulainya melalui pembiasaan kecil dalam keseharian:
Membantu Tanpa Diminta. Ajarkan anak untuk melatih kesadaran diri terhadap lingkungan sekitar.
- Praktik: Dorong anak untuk mengambilkan minum saat melihat ibu atau ayahnya lelah, membukakan pintu untuk orang yang membawa barang berat, atau merapikan mainan tanpa perlu disuruh.
Tidak Menertawakan Kesalahan Orang Lain. Saat teman atau saudaranya melakukan kesalahan, ingatkan anak bahwa setiap manusia pernah gagal.
- Praktik: Bimbing anak untuk tidak mengejek kawan yang jatuh atau salah menjawab pertanyaan di kelas. Ubah ejekan menjadi kalimat pembesar hati, "Tidak apa-apa, besok bisa dicoba lagi."
Menghargai Perbedaan. Dunia ini diisi oleh orang-orang dengan latar belakang, kemampuan, dan kondisi ekonomi yang beragam.
- Praktik: Latih anak untuk tidak memandang sebelah mata teman yang memiliki fisik, keyakinan, atau kondisi finansial yang berbeda. Bantu mereka memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Empati bukan sekadar teori di kepala, melainkan otot emosi yang harus dilatih lewat tindakan nyata. Pengalaman langsung dalam menolong atau berbagi akan mengendap jadi memori kebaikan di hati anak.
Bersyukur Tanpa Merendahkan Orang Lain. Mengajarkan anak untuk bersyukur atas apa yang dimiliki adalah hal baik, tetapi pastikan rasa syukur itu tidak berubah menjadi rasa superioritas.
- Praktik: Daripada mengatakan, "Lihat tuh, kamu masih mending daripada dia," ubah kalimatnya menjadi, "Kita sangat beruntung hari ini masih bisa makan enak. Yuk, kita bagikan sedikit rezeki ini untuk yang membutuhkan."
Bantu Anak Mengenali dan Menamai Emosi Sendiri. Sebelum bisa memahami perasaan orang lain, anak perlu paham dulu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Ketika anak mengerti nama dari emosi yang dirasakannya, ia akan lebih mudah mengenali dan memaklumi emosi yang sama pada orang lain.
- Praktik: Daripada langsung ikut tersulut emosi anak, coba untuk ajak berbicara dengan santai, seperti "Ibu tahu kamu lagi marah banget sama Adik, dan merasa marah itu wajar kok. Tapi, memukul itu tetap tidak boleh ya, Kak." atau "Kamu kelihatan lagi kecewa banget ya karena kita batal pergi ke taman hari ini?" Anak yang merasa perasaannya dihargai dan didengar akan tumbuh menjadi pribadi yang mau mendengarkan orang lain. Memvalidasi emosi bukan berarti membenarkan perilaku buruk, melainkan memberikan ruang aman agar anak merasa dimengerti dulu sebelum diberikan dorongan perbaikan.
Latih Perspective-Taking Saat Terjadi Konflik. Ketika anak berselisih paham, seperti berebut mainan dengan saudara atau temannya, hindari langsung menghakimi. Gunakan momen tersebut sebagai ajang latihan untuk membayangkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman yang dialami orang lain.
- Praktik: "Gimana rasanya kalau mainan yang lagi kamu suka diambil tiba-tiba tanpa izin? Bikin kesal, kan? Nah, itu juga yang dirasakan temanmu tadi pas mainannya kamu ambil."
Jadilah Teladan (Role Model) dalam Berempati Sehari-hari. Anak adalah peniru ulung. Cara terbaik menanamkan empati adalah dengan memperlihatkan secara langsung bagaimana kita sebagai orang tua merespons dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
- Praktik: Selalu mengucapkan terima kasih yang tulus kepada kurir paket atau pelayan restoran, menyapa tetangga dengan ramah, serta tidak membicarakan keburukan orang lain di depan anak.